Fase transisi
oleh: Ratna Mettasari, S.Pd
Sekolah bukanlah
sebuah mesin yang mencetak anak-anak menjadi sebuah produk, belajar-pulang-belajar-ulangan-pulang-uas-rapotan-naik-lulus.
Tetapi sekolah adalah tempat yang mengajarkan nilai-nilai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara.
Jadi dalam berproses tidak hanya berprinsip apa yang diberikan dan apa yang
didapatkan, namun apa yang sudah kita lakukan bersama-sama untuk mencapainya(value).
Menjadi wali
kelas 5 bukanlah suatu hal yang mudah yang seperti kita bayangkan. Dalam
realita dilapangan kita tidak hanya di hadapkan pada penekanan materi yang
kompleks, namun juga pada perubahan fase peserta didik dari fase anak-anak
menuju remaja(pubertas). Apakah hal ini berpengaruh? Hal ini ternyata sangat
berpengaruh terhadap kepribadian, sikab dan gaya belajar peserta didik dalam
sebuah pembelajaran. Maka tak heran jika guru-guru pada tingkatan ini akan
banyak mengeluh tentang perubahan perilaku dari yang pendiam menjadi rame,
nakal suka ini, suka itu atau dari yang pintar menjadi sedikit menurun, dulu
pintar sekarang tidak.
Kepribadian dan
sikab dalam tingkatan ini, anak-anak mulai mencari jati diri serta kepribadian
sehingga mereka mengeksplor semua yang mereka dapatkan sebelumnya entah itu
positif atau negatif untuk mencapai jati diri yang sesuai dengan passion mereka.
Pada fase ini peserta didik membutuhkan ruang yang lebih untuk eksistensi atau
hanya sekedar pengakuan dari orang lain. Dari sinilah muncul sikab peserta
didik yang aneh-aneh seperti membangkang, nakal, rame, suka mengganggu, suka
membuat gank, melukai diri sendiri dll. Bahkan, bisa jadi kebalikan yang sebelumnya
dulu nakal sekarang lebih pintar sabar dan pengertian. Dari paparan contoh
tersebut peserta didik menunjukkan bahwa mereka membutuhkan ruang eksistensi
supaya terlihat dan dilihat. Oleh karena itu, sebagai pendidik kita harus
saling bekerjasama dengan orang tua untuk mengarahkan eksistensi tersebut
kepada hal-hal yang positif (minat/bakat). Bukan saling menyalahkan salah satu
pihak misal orang tua ataupun guru saja.
Kedua,
di tingkatan ini kita juga dihadapkan pada fase pubertas peserta didik. Dalam
artian, pada fase ini mereka sudah mulai memandang teman mereka sebagai lawan
jenis. Mereka sudah mulai memberi kode-kode kepada lawan jenis untuk membuatnya
tertarik (caper). Pada fase ini kita sebagai pendidik harus mampu memposisikan
sebagai teman bukan sebagai guru, sehingga akan ada sikab keterbukaan antar siswa
dan guru mengenai apa yang peserta didik rasakan siapa yang disukai, kenapa dia
suka dan sebagainya. Dan ini juga salah satu hal yang bisa menguntungkan guru.
Karena guru akan mudah mengkontrol tindak-tanduk yang mereka lakukan selama di
lingkungan sekolah serta dapat memberikan saran yang membangun mental anak.
Tak hanya itu
saja, Pada pembelajaran pada tingkatan
ini juga memiliki tantangan tersendiri. Peserta didik tidak hanya menerima
materi yang kita berikan, tetapi juga sudah mulai mengaitkan pembelajaran dalam
konteks lingkungan / berbasis realita. Sehingga metode dan pendekatan
pembelajaran yang dilakukan pada tahap ini bukan teacher center. Tapi
perpaduan antara student and teacher center. Kita tidak serta
merta mendoktrin peserta didik tapi memberi kesempatan kepada mereka untuk
menjelaskan dan merasionalkan dari pengetahuan yang mereka peroleh dengan apa
yang kita berikan.
Dari paparan
diatas maka dapat kita garis bawahi bahwa menjadi seorang pendidik di tingkat
ini tidak cukup dengan kepandaian belaka namun juga harus memiliki kepekaan
emosional terhadap apa yang dirasakan peserta didik termasuk perubahan sikab
dan prilakunya di masa transisi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar