Selasa, 05 Februari 2019

Belajar Menjadi Ibu


BELAJAR MENJADI IBU
Ratna Mettasari, S.Pd




diskusi bersama Bunda Ulfa Guru TK Kalialo

Dua tahun sudah bergabung dengan SD Muhammadiyah 1 Krian. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang telah terukir disini. Mulai dari susah, senang, tangis, tawa hampir tak dapat tergambarkan dalam 1 deskripsi saja. Banyak hal yang tidak saya dapatkan di luar dan saya dapatkan disini dan itu adalah sebuah nikmat yang harus patut saya syukuri setiap waktu.
Mendapat tanggung jawab di dalam kelas adalah hal yang sangat saya syukuri kemudian. Karena dari sanalah saya mendapat berbagai macam pengalaman yang sangat berharga. Termasuk menjadi seorang ibu, ibu bagi anak-anakku.
Jika biasanya saya berinteraksi dengan teman sebaya, mahasiswa, masyarakat luas, politik dan lainnya. Maka  hari ini saya harus  di hadapkan pada anak-anak usia dasar yang memiliki ragam sifat dan karakter yang unik dan membutuhkan strategi penanganan yang tidak biasa dari biasanya. Dari sini saya berfikir, mungkin ada sesuatu yang ingin orang tua saya pelajari di dunia pendidikan.Dan benar saja sejuta pengalaman saya dapatkan disini bersama mereka.
Ketika orang tua murid kita menyekolahkan anaknya di sini maka sepenuhnya mereka mempercayakan mereka kepada kita (Guru Kelas). Maka detik itu juga mereka adalah anak kita. Itulah maind set yang tergambar dalam fikiran saya. Dan benar saja ketika kita mendidik mereka seperti orang tua mereka sendiri, maka mereka akan menganggap kita adalah orang tuanya. Dan itu berbeda dengan seorang pendidik yang hanya mengajar dan pulang.
Letak perbedaannya adalah mereka akan sepenuh hati meletakkan kepercayaannya kepada kita(Guru). Dan itu adalah hal yang sangat luar biasa. Semarah-marahnya guru tersebut ke anaknya (murid). maka ia akan menganggap itu adalah marah cinta kasih sayang kepada mereka. Sehingga, mereka bukan benci terhadap gurunya. Tetapi dia akan meminta maaf dan melakukan hal terbaik kedepannya.
Hal ini jugalah yang saya pelajari selama menjadi guru disini. Memposisikan menjadi ibu bagi mereka. Mendampingi mereka, menguatkan hati mereka dan selalu ada untuk mereka. Mengajari mereka bersosial dan bermasyarakat. Rasa terikat inilah yang membuat saya berat untuk tidak masuk ke sekolah. Pasti saya akan berfikir bagaimana mereka? Kalau ketinggalan bagaimana?siapa yang mendampingi? Ah masuk saja walau sakit, nanti ijin masuk terlambat saja.
Dan jika rasa ini sudah mengikat akan mengikat juga kepada anak-anak peserta didik kita dan hal itu memang benar. Di suatu hari ketika ada event. “nak ibu guru ada tamu, sekolah kita aka nada penilaian! Nanti kalau kelasnya jamkos  jangan ribut, jangan ramai, please….!!! bersikap yang baik karena bu guru tidak mau kamu mempermalukan bu guru dengan tingkahmu ya!! belajar tanggung jawab”. Tak lama kemudian “bu tamunya datang sampeyan turun dulu!”.  Beberapa jam berselang “bu kelas sampeyan tadi bersih-bersih kelas, ngepel, pokoknya wangi banget”. “bu kelas sampeyan tadi diam sekali tanpa kata ada apa ya?tidak gaduh, tertib sekali. Dalam hati “nak trimakasih sudah mengerti”.
Walaupun tanpa disuruh tapi mereka memahami kondisi kita, posisi kita dan itulah yang membuat saya semakin mengerti sesungguhnya mereka banyak mengajari saya tentang arti dan tujuan kehidupan. mereka mengajari saya arti sebuah keluarga. Kelasku bukan tempat persaingan tapi kelasku adalah sebuah keluarga yang jika satu sakit maka semua akan merasa sakit yang sama.
            Hal ini sejalan dengan event bazar kala itu, mereka membawa dagangannya berkeliling. Lelah, panas, dan masih banyak membuat down mereka kala itu. “nak mudah cari uang? Ya ini!! pengusaha tak pernah lelah rugi ya coba lagi, lagi dan lagi. Ya sudah semuanya kumpul dangangan yang tidak habis kita makan bersama. Nanti yang dagangannya laku bu guru kembalikan modal pokok ya? Sisanya buat nambal yg belum kembali modal?”. Subhanallah anakku, betapa bangganya ibu gurumu padamu setiap hari setiap waktu ada yang diajarkan ada yang didapatkan karena setiap hal bu guru harus belajar lebih untuk memahami kaliyan.
Itu adala gambaran jika kita memposisikan seagai ibu mereka. Akan sangat berbeda jika kita memposisikan diri sebagai mesin. Yang terus memproduksi produk-produk setiap tahun. Jika guru itu memarahi maka dia akan dendam dan mencaci maki gurunya. Aku tidak suka sama guru ini dan itu dan sangat menyayat hati sekali jika kita yang sudah mengajar mendapat kata seperti itu.

Belajar tidak hanya diperoleh dari pendidikan bangku formal saja, melalui mereka jugalah kita juga bisa belajar menjadi sesuatu yang berharga.
Pengalaman terbaikku, menjadi bagian dari Keluarga Besar SD Muhammadiyah 1 Krian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar