BELAJAR MENJADI IBU
Ratna
Mettasari, S.Pd
diskusi bersama Bunda Ulfa Guru TK Kalialo
Dua tahun sudah bergabung dengan SD Muhammadiyah 1
Krian. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang telah terukir disini. Mulai
dari susah, senang, tangis, tawa hampir tak dapat tergambarkan dalam 1
deskripsi saja. Banyak hal yang tidak saya dapatkan di luar dan saya dapatkan
disini dan itu adalah sebuah nikmat yang harus patut saya syukuri setiap waktu.
Mendapat tanggung jawab di dalam kelas adalah hal yang
sangat saya syukuri kemudian. Karena dari sanalah saya mendapat berbagai macam
pengalaman yang sangat berharga. Termasuk menjadi seorang ibu, ibu bagi
anak-anakku.
Jika biasanya saya berinteraksi dengan teman sebaya,
mahasiswa, masyarakat luas, politik dan lainnya. Maka hari ini saya harus di hadapkan pada anak-anak usia dasar yang
memiliki ragam sifat dan karakter yang unik dan membutuhkan strategi penanganan
yang tidak biasa dari biasanya. Dari sini saya berfikir, mungkin ada sesuatu
yang ingin orang tua saya pelajari di dunia pendidikan.Dan benar saja sejuta
pengalaman saya dapatkan disini bersama mereka.
Ketika orang tua murid kita menyekolahkan anaknya di
sini maka sepenuhnya mereka mempercayakan mereka kepada kita (Guru Kelas). Maka
detik itu juga mereka adalah anak kita. Itulah maind set yang tergambar dalam
fikiran saya. Dan benar saja ketika kita mendidik mereka seperti orang tua
mereka sendiri, maka mereka akan menganggap kita adalah orang tuanya. Dan itu
berbeda dengan seorang pendidik yang hanya mengajar dan pulang.
Letak perbedaannya adalah mereka akan sepenuh hati
meletakkan kepercayaannya kepada kita(Guru). Dan itu adalah hal yang sangat
luar biasa. Semarah-marahnya guru tersebut ke anaknya (murid). maka ia akan
menganggap itu adalah marah cinta kasih sayang kepada mereka. Sehingga, mereka
bukan benci terhadap gurunya. Tetapi dia akan meminta maaf dan melakukan hal
terbaik kedepannya.
Hal ini jugalah yang saya pelajari selama menjadi guru
disini. Memposisikan menjadi ibu bagi mereka. Mendampingi mereka, menguatkan
hati mereka dan selalu ada untuk mereka. Mengajari mereka bersosial dan
bermasyarakat. Rasa terikat inilah yang membuat saya berat untuk tidak masuk ke
sekolah. Pasti saya akan berfikir bagaimana mereka? Kalau ketinggalan
bagaimana?siapa yang mendampingi? Ah masuk saja walau sakit, nanti ijin masuk
terlambat saja.
Dan jika rasa ini sudah mengikat akan mengikat juga
kepada anak-anak peserta didik kita dan hal itu memang benar. Di suatu hari
ketika ada event. “nak ibu guru ada tamu, sekolah kita aka nada penilaian!
Nanti kalau kelasnya jamkos jangan
ribut, jangan ramai, please….!!! bersikap yang baik karena bu guru tidak mau
kamu mempermalukan bu guru dengan tingkahmu ya!! belajar tanggung jawab”. Tak
lama kemudian “bu tamunya datang sampeyan turun dulu!”. Beberapa jam berselang “bu kelas sampeyan
tadi bersih-bersih kelas, ngepel, pokoknya wangi banget”. “bu kelas sampeyan
tadi diam sekali tanpa kata ada apa ya?tidak gaduh, tertib sekali. Dalam hati
“nak trimakasih sudah mengerti”.
Walaupun tanpa disuruh tapi mereka memahami kondisi
kita, posisi kita dan itulah yang membuat saya semakin mengerti sesungguhnya
mereka banyak mengajari saya tentang arti dan tujuan kehidupan. mereka
mengajari saya arti sebuah keluarga. Kelasku bukan tempat persaingan tapi
kelasku adalah sebuah keluarga yang jika satu sakit maka semua akan merasa
sakit yang sama.
Hal ini
sejalan dengan event bazar kala itu, mereka membawa dagangannya berkeliling.
Lelah, panas, dan masih banyak membuat down mereka kala itu. “nak mudah cari
uang? Ya ini!! pengusaha tak pernah lelah rugi ya coba lagi, lagi dan lagi. Ya
sudah semuanya kumpul dangangan yang tidak habis kita makan bersama. Nanti yang
dagangannya laku bu guru kembalikan modal pokok ya? Sisanya buat nambal yg
belum kembali modal?”. Subhanallah anakku, betapa bangganya ibu gurumu padamu
setiap hari setiap waktu ada yang diajarkan ada yang didapatkan karena setiap
hal bu guru harus belajar lebih untuk memahami kaliyan.
Itu adala gambaran jika kita
memposisikan seagai ibu mereka. Akan sangat berbeda jika kita memposisikan diri
sebagai mesin. Yang terus memproduksi produk-produk setiap tahun. Jika guru itu
memarahi maka dia akan dendam dan mencaci maki gurunya. Aku tidak suka sama
guru ini dan itu dan sangat menyayat hati sekali jika kita yang sudah mengajar
mendapat kata seperti itu.
Belajar tidak
hanya diperoleh dari pendidikan bangku formal saja, melalui mereka jugalah kita
juga bisa belajar menjadi sesuatu yang berharga.
Pengalaman terbaikku, menjadi bagian dari Keluarga Besar SD
Muhammadiyah 1 Krian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar