Jumat, 08 Februari 2019

Fase Transisi (Mengenal emosional anak)


Fase transisi
                                                      oleh: Ratna Mettasari, S.Pd



Sekolah bukanlah sebuah mesin yang mencetak anak-anak menjadi sebuah produk, belajar-pulang-belajar-ulangan-pulang-uas-rapotan-naik-lulus. Tetapi sekolah adalah tempat yang mengajarkan nilai-nilai dalam kehidupan  bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Jadi dalam berproses tidak hanya berprinsip apa yang diberikan dan apa yang didapatkan, namun apa yang sudah kita lakukan bersama-sama untuk mencapainya(value).
Menjadi wali kelas 5 bukanlah suatu hal yang mudah yang seperti kita bayangkan. Dalam realita dilapangan kita tidak hanya di hadapkan pada penekanan materi yang kompleks, namun juga pada perubahan fase peserta didik dari fase anak-anak menuju remaja(pubertas). Apakah hal ini berpengaruh? Hal ini ternyata sangat berpengaruh terhadap kepribadian, sikab dan gaya belajar peserta didik dalam sebuah pembelajaran. Maka tak heran jika guru-guru pada tingkatan ini akan banyak mengeluh tentang perubahan perilaku dari yang pendiam menjadi rame, nakal suka ini, suka itu atau dari yang pintar menjadi sedikit menurun, dulu pintar sekarang tidak.
Kepribadian dan sikab dalam tingkatan ini, anak-anak mulai mencari jati diri serta kepribadian sehingga mereka mengeksplor semua yang mereka dapatkan sebelumnya entah itu positif atau negatif untuk mencapai jati diri yang sesuai dengan passion mereka. Pada fase ini peserta didik membutuhkan ruang yang lebih untuk eksistensi atau hanya sekedar pengakuan dari orang lain. Dari sinilah muncul sikab peserta didik yang aneh-aneh seperti membangkang, nakal, rame, suka mengganggu, suka membuat gank, melukai diri sendiri dll.  Bahkan, bisa jadi kebalikan yang sebelumnya dulu nakal sekarang lebih pintar sabar dan pengertian. Dari paparan contoh tersebut peserta didik menunjukkan bahwa mereka membutuhkan ruang eksistensi supaya terlihat dan dilihat. Oleh karena itu, sebagai pendidik kita harus saling bekerjasama dengan orang tua untuk mengarahkan eksistensi tersebut kepada hal-hal yang positif (minat/bakat). Bukan saling menyalahkan salah satu pihak misal orang tua ataupun guru saja.
            Kedua, di tingkatan ini kita juga dihadapkan pada fase pubertas peserta didik. Dalam artian, pada fase ini mereka sudah mulai memandang teman mereka sebagai lawan jenis. Mereka sudah mulai memberi kode-kode kepada lawan jenis untuk membuatnya tertarik (caper). Pada fase ini kita sebagai pendidik harus mampu memposisikan sebagai teman bukan sebagai guru, sehingga akan ada sikab keterbukaan antar siswa dan guru mengenai apa yang peserta didik rasakan siapa yang disukai, kenapa dia suka dan sebagainya. Dan ini juga salah satu hal yang bisa menguntungkan guru. Karena guru akan mudah mengkontrol tindak-tanduk yang mereka lakukan selama di lingkungan sekolah serta dapat memberikan saran yang membangun mental anak.
Tak hanya itu saja,  Pada pembelajaran pada tingkatan ini juga memiliki tantangan tersendiri. Peserta didik tidak hanya menerima materi yang kita berikan, tetapi juga sudah mulai mengaitkan pembelajaran dalam konteks lingkungan / berbasis realita. Sehingga metode dan pendekatan pembelajaran yang dilakukan pada tahap ini bukan teacher center. Tapi perpaduan antara student and teacher center. Kita tidak serta merta mendoktrin peserta didik tapi memberi kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan dan merasionalkan dari pengetahuan yang mereka peroleh dengan apa yang kita berikan.
Dari paparan diatas maka dapat kita garis bawahi bahwa menjadi seorang pendidik di tingkat ini tidak cukup dengan kepandaian belaka namun juga harus memiliki kepekaan emosional terhadap apa yang dirasakan peserta didik termasuk perubahan sikab dan prilakunya di masa transisi.

Selasa, 05 Februari 2019

MERETAS BUYLING DI SOSIAL MEDIA DENGAN MENANAMKAN AQIDAH YANG KUAT


MERETAS BUYLING DI  SOSIAL MEDIA DENGAN  MENANAMKAN AQIDAH YANG KUAT
                                                           Oleh: Ratna Mettasari, S.Pd


Di abad ke 20 ini, teknologi informasi dan komunikasi berkembang dan menyebar begitu sangat cepat. Hal ini dapat dibuktikan dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang hampir merata di semua kalangan. Entah itu tua, muda, miskin ataupun kaya hampir semua dapat menikmati perkembangan teknologi tersebut.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut tentunya memiliki dampak yang sangat kuat. Yakni dampak positif dan dampak negative. Dampak positifnya adalah dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memudahkan manusia melakukan berbagai hal yang dulu mustahil untuk dilakukan. Misalnya adalah silaturahmi dengan manusia di seluruh penjuru dunia. Sebelum teknologi informasi dan komunikasi berkembang berkomunikasi dengan orang luar (luar negeri) menjadi kemustahilan. Membutuhkan waktu dan biaya yang sangat banyak. Namun, dengan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi abad ini tak hanya silaturahmi saja. Bahkan kita bisa melakukan beberapa hal dalam satu genggaman saja. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang  tidak bijak ternyata juga memiliki dampak negative. Salah satu dampak negativnya adalah maraknya kriminalisasi melalui teknologi informasi dan komunikasi.
Apakah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi penting bagi kita sebagai ketenaga pendidikan?. Tentu saja, seperti yang dipaparkan di atas bahwa penggunaan perkembangan teknologi tidak hanya di kalangan  tua saja. Tetapi, juga di kalangan muda yaitu anak-anak kita (pesertadidik).
Jenis penggunaan teknologi yang sering di gunakan anak-anak kita? Jenis teknologi yang sering anak-anak kita gunakan adalah media sosial (faceook whatshap,instragram, dll).  Apakah itu berdampak positif? Tentu saja ada positif dan ada dampak negatifnya pula. Jika anak kita menggunakan secara bijak maka tentusaja dampak positif yang akan diterima. Tetapi jika mereka menggunakan secara tidak bijak maka dampak negatiflah yang akan diperoleh mereka.
Dampak negative apakah yang sering anak-anak hadapi dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi? Buylling media sosial. Inilah yang wajib kita ketahui selanjutnya sebagai pendidik. Dampak-dampak perubahan sikab pada peserta didik kita yang disebabkan pengaruh negative media sosial.  Buylling pada media sosial apakah yang dimaksud? Buylling di sini tidak hanya komentar pedas saja, atau perkataan yang menyakiti salah satu pihak. Tetapy buylling yang sering di hadapi anak-anak kita adalah Body Shaming  yang berkaitan dengan fisik ananda kita.
Bagaimana kalau sudah terjadi? Kita harus terlibat dan mengawasi dan yang terpenting mendampingi. Karena hal yang terpenting setelah menjadi korban adalah dengan melakukan pendekataan secara hati. Menasihati dari hati ke hati.
Bagaimana cara meminimalisir dampak yang di sebabkan oleh buylling(before)? Perkembangan itu pasti menghindari itu jangan. Penanaman pondasi yang kuat inilah yang menjadi kunci bagi orang tua maupun pendidik dalam menghadapi dampak negative buylling. Jika pondasinya kuat takkalah mereka dilepas maka mereka akan memiliki pegangan yang sangat kuat. 
Apakah pondasi itu? Alqur’an dan as sunnah. Jika kita benar-benar menancapakan dasar ini kedalam diri anak-anak kita maka jika anak-anak melakukan sesuatu yang bersifat negative maka dia akan mengembalikan kepada al-qur’an dan assunah. Jikalau itu diterapkan di semua anak-anak kita maka buylling akan terminimalisir.
 Teaching point yang bisa kita ambil adalah ada keterlibatan beberapa pihak untuk mengarahkan peserta didik kita kepada hal-hal positif tentu saja ada peran orang tua dan seorang guru yang berperan untuk menancapkan pondasi yang kuat kepada anak-anak kita sebagai bekal menghadapi perkembangan dan dampak-dampak negatifnya. So, kita harus mempersiapkan strategi tepat akurat demi terciptanya generasi emas bebas buylling.

Belajar Menjadi Ibu


BELAJAR MENJADI IBU
Ratna Mettasari, S.Pd




diskusi bersama Bunda Ulfa Guru TK Kalialo

Dua tahun sudah bergabung dengan SD Muhammadiyah 1 Krian. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang telah terukir disini. Mulai dari susah, senang, tangis, tawa hampir tak dapat tergambarkan dalam 1 deskripsi saja. Banyak hal yang tidak saya dapatkan di luar dan saya dapatkan disini dan itu adalah sebuah nikmat yang harus patut saya syukuri setiap waktu.
Mendapat tanggung jawab di dalam kelas adalah hal yang sangat saya syukuri kemudian. Karena dari sanalah saya mendapat berbagai macam pengalaman yang sangat berharga. Termasuk menjadi seorang ibu, ibu bagi anak-anakku.
Jika biasanya saya berinteraksi dengan teman sebaya, mahasiswa, masyarakat luas, politik dan lainnya. Maka  hari ini saya harus  di hadapkan pada anak-anak usia dasar yang memiliki ragam sifat dan karakter yang unik dan membutuhkan strategi penanganan yang tidak biasa dari biasanya. Dari sini saya berfikir, mungkin ada sesuatu yang ingin orang tua saya pelajari di dunia pendidikan.Dan benar saja sejuta pengalaman saya dapatkan disini bersama mereka.
Ketika orang tua murid kita menyekolahkan anaknya di sini maka sepenuhnya mereka mempercayakan mereka kepada kita (Guru Kelas). Maka detik itu juga mereka adalah anak kita. Itulah maind set yang tergambar dalam fikiran saya. Dan benar saja ketika kita mendidik mereka seperti orang tua mereka sendiri, maka mereka akan menganggap kita adalah orang tuanya. Dan itu berbeda dengan seorang pendidik yang hanya mengajar dan pulang.
Letak perbedaannya adalah mereka akan sepenuh hati meletakkan kepercayaannya kepada kita(Guru). Dan itu adalah hal yang sangat luar biasa. Semarah-marahnya guru tersebut ke anaknya (murid). maka ia akan menganggap itu adalah marah cinta kasih sayang kepada mereka. Sehingga, mereka bukan benci terhadap gurunya. Tetapi dia akan meminta maaf dan melakukan hal terbaik kedepannya.
Hal ini jugalah yang saya pelajari selama menjadi guru disini. Memposisikan menjadi ibu bagi mereka. Mendampingi mereka, menguatkan hati mereka dan selalu ada untuk mereka. Mengajari mereka bersosial dan bermasyarakat. Rasa terikat inilah yang membuat saya berat untuk tidak masuk ke sekolah. Pasti saya akan berfikir bagaimana mereka? Kalau ketinggalan bagaimana?siapa yang mendampingi? Ah masuk saja walau sakit, nanti ijin masuk terlambat saja.
Dan jika rasa ini sudah mengikat akan mengikat juga kepada anak-anak peserta didik kita dan hal itu memang benar. Di suatu hari ketika ada event. “nak ibu guru ada tamu, sekolah kita aka nada penilaian! Nanti kalau kelasnya jamkos  jangan ribut, jangan ramai, please….!!! bersikap yang baik karena bu guru tidak mau kamu mempermalukan bu guru dengan tingkahmu ya!! belajar tanggung jawab”. Tak lama kemudian “bu tamunya datang sampeyan turun dulu!”.  Beberapa jam berselang “bu kelas sampeyan tadi bersih-bersih kelas, ngepel, pokoknya wangi banget”. “bu kelas sampeyan tadi diam sekali tanpa kata ada apa ya?tidak gaduh, tertib sekali. Dalam hati “nak trimakasih sudah mengerti”.
Walaupun tanpa disuruh tapi mereka memahami kondisi kita, posisi kita dan itulah yang membuat saya semakin mengerti sesungguhnya mereka banyak mengajari saya tentang arti dan tujuan kehidupan. mereka mengajari saya arti sebuah keluarga. Kelasku bukan tempat persaingan tapi kelasku adalah sebuah keluarga yang jika satu sakit maka semua akan merasa sakit yang sama.
            Hal ini sejalan dengan event bazar kala itu, mereka membawa dagangannya berkeliling. Lelah, panas, dan masih banyak membuat down mereka kala itu. “nak mudah cari uang? Ya ini!! pengusaha tak pernah lelah rugi ya coba lagi, lagi dan lagi. Ya sudah semuanya kumpul dangangan yang tidak habis kita makan bersama. Nanti yang dagangannya laku bu guru kembalikan modal pokok ya? Sisanya buat nambal yg belum kembali modal?”. Subhanallah anakku, betapa bangganya ibu gurumu padamu setiap hari setiap waktu ada yang diajarkan ada yang didapatkan karena setiap hal bu guru harus belajar lebih untuk memahami kaliyan.
Itu adala gambaran jika kita memposisikan seagai ibu mereka. Akan sangat berbeda jika kita memposisikan diri sebagai mesin. Yang terus memproduksi produk-produk setiap tahun. Jika guru itu memarahi maka dia akan dendam dan mencaci maki gurunya. Aku tidak suka sama guru ini dan itu dan sangat menyayat hati sekali jika kita yang sudah mengajar mendapat kata seperti itu.

Belajar tidak hanya diperoleh dari pendidikan bangku formal saja, melalui mereka jugalah kita juga bisa belajar menjadi sesuatu yang berharga.
Pengalaman terbaikku, menjadi bagian dari Keluarga Besar SD Muhammadiyah 1 Krian

Rabu, 07 Mei 2014

DEMOKRASI

PESTA DEMOKRASI INDONESIA, MENUJU INDONESIA JAYA

Tahun 2014 ini indonesia sedang mengelar hajatan besar yakni Pesta Demokrasi (PEMILU). Dimana, pemilu merupakan barometer politik yang paling akurat  untuk menangkap aspirasi rakyat. Lewat pemilu inilah rakyat akan menentukan sikabnya.Dalam pesta ini (PEMILU)  akan di ikuti seluruh warga Indonesia baik di dalam ataupun di Luar Negeri untuk memilih perwailannya di pemerintahan, mulai dari tingkat Kabupaten, Provinsi, maupun tingkat RI.
Namun sungguh di sayangkan dalam pelaksanaannya masih belum ditrimanya prinsip jujur, adil bebas dan rahasia. Banyak oknum-oknum yang telah menciderai esensi dari demokrasi itu sendiri sebagai berikut saya kutib di :
http://indonesia-baru.liputan6.com/read/2034839/pemantau-politik-uang-paling-banyak-terjadi-di-maluku#sthash.rkSHaCfR.dpuf Data menunjukkan bahwa di maluku yang merupakan bagian dari Indonesia sendiri masih terjadi banyak sekali kecurangan dan menduduki peringkat pertama untuk kasus money politik atau yang lebih di kenal lagi politik uang. Dimana para calon berlomba-lomba memberikan uang kepada peserta pemilu, tapi tidak serta merta diberikan.  Tetapi dengan imbalan mereka harus memilih calon tersebut. jadi istilah kerennya suara rakyat dapat di beli. Dan bisa kita tebak bagaimana pemimpin kita kedepannya?? Mereka tidak lagi murni memperjuangkan hak-hak rakyatnya tetapi sibuk memperjuangkan hak-hak yang dikeluarkannya ketika berlangsungnya pesta demokrasi. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme terjadi dimana-mana. Dan pada akhirnya rakyatlah yang akan di sengsarakan.

Dan untuk meminimalisir kejadian itu masyarakat harus menjadi orang cerdas yang tidak hanya tergerus dalam kesenangan sesaat dan lebih mengedepankan kesejahteraan bangsa kedepannya.  Dan semoga saja pada pelaksanaan pesta demokrasi ini akan ada pemimpin baru yang dengan sungguh-sungguh akan memperjuangkan suara rakyatnya. SEMOGA.(Ratn)

Rabu, 04 Desember 2013

pertumbuhan dan perkembangan anak

                                       TUGAS MAKALAH 









PSIKOLOGI UMUM
PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN ANAK

Dosen Pengampu: Fitriah Eka Wulandari
Disususn Oleh:
1.       Puji Fahruliah                    ( 118620600162)
2.       Ratna Mettasari                ( 118620600196)
3.       Karina Tri Rosanti             ( 118620600198)
4.       Fandi Ahmad Munshif     ( 118620600195)



PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
2011





KATA PENGANTAR
          Puji sukur kehadirat Allah S.W.T. yang telah memberikan taufiq serta hidayahnya kepada kita semua, sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pertumbuhan dan Perkembangan Anak”. Shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW. Yang telah menuntun kita kejalan yang terang yaitu addinul islam.
Dalam penyusunan Makalah ini, penulis berusaha dan berupaya semaksimal mungkin untuk mengaplikasikan teori-teori yang telah penulis peroleh dari buku-buku literatur yang berhubungan dengan mata kulia Psikologi Umum, serta tak lepas pula dari bimbingan, arahan serta dukungan baik materi maupun spiritual dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada:
1.      Fitria Eka Wulandari, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kulia Pendidikan Psikologi Umum.
2.      Rekan-rekan dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, yang telah membantu dalam penyusunan Makalah ini.
Walaupun penyusunan makalah ini sudah diusahakan semaksimal mungkin, tapi kami sadar bahwa makalah ini kurang sempurna, karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah dan kesalahan itu hanyalah milik penulis. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritikan dari pihak pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.
                                                              
                                                                     Sidoarjo, 10 November 2011
              

                                                                                        Penulis


DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................. 2

Daftar  isi....................................................................................... 3

BAB I: PENDAHULUAN

        1.1  Latar Belakang      .......................................................... 4

        1.2 Rumusan Masalah  .......................................................... 4

        1.3 Tujuan                    .......................................................... 5

BAB II : PEMBAHASAN

         2.1  Pertumbuhan dan Perkembangan                             .......... 6

         2.2  Aspek-aspek yang mempengaruhi

                Pertumbuhan dan Perkembangan................................ 8

         2.3  Fase Pertumbuhan dan Perkembangan.......................... 15                  

         2.4 Fase-fase psikoseksual ...................................................  19

BAB III : PENUTUP                              

          3.1 Kesimpulan         ........................................................... 26

          3.2 Kritik dan Saran   .......................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN

I.I  Latar Belakang
Anak yang cerdas, sehat, berpenampilan menarik, dan beraklak mulia merupakan dambaan setiap orang tua. Agar dapat tercapai hal tersebut terdapat kriteria yang harus terpenuhi dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, salah satunya adalah faktor genetik. Namun selain faktor keturunan masih terdapat faktor lain yang mempengaruhi kualitas seorang anak. Kualitas seorang anak dapat dinilai dari proses tumbuhkembang yang merupakan hasil interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik/ lingkungan  adalah faktor yang berhubungan dengan gen yang berasal dari ayah maupun ibu, sedangkan faktor lingkungan meliputi lingkungan biologis, fisik, psikologis dan sosial.
Pertumbuhan dan perkembangan anak mengalami peningkatan yang pesat pada usia dini. Masa ini sering juga di sebut masa “Golden Age”. Golden agae merupakan masa yang sangat penting untuk memeperhatikan tumbuh kembang anak secara cermat agar sedini mungkin dapat terdeteksi apabila ada kelainan. Selain itu dengan memperhatikan pertumbuhan dan perkebangan dapat juga meminimalisir kelainan yang bersifat permanen.          
1.2  Rumusan Masalah
1)       Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan dan perkembangan ?
2)      Aspek–aspek apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ?
3)      Fase – fase apa saja yang ada di dalam pertumbuhan dan perkembangan ?
4)      Apa saja fase – fase yang ada didalam psikoseksual pada anak ?


1.3 Tujuan
Untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan pada anak, mengetahui aspek-aspek yang mempengarui pertumbuhan dan perkembangan pada anak, fase-fase pertumbuhan dan perkembangan, serta fase-fase psikoseksualnya.
1.4 Batasan masalah              
Makala ini hanya membahas tentang definisi pertumbuhan dan perkembangan, aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, serta fase-fase pertumbuhan, perkembangan dan psikoseksual.














BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Istilah tumbuh kembang terdiri atas dua peristiwa yang sifatnya berbeda tetapi saling berkaitan dan sulit untuk dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, yang berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.
Pertumbuhan jasmaniah berakar pada: oragnisme yang selalu berproses untuk menjadi (the process of coming into being). Jelasnya, organisme merupakan sistem yang mekar secara kontinu, yang selalu “beroprasi”atau  berfungsi; juga sifat dinamis yang tidak pernah statis secara komplit (kecuali kalau sudah mati). Pertumbuhan jasmaniah ini dapat diteliti dengan mengukur
(1) berat,(2) panjang dan (3) ukuran lingkaran ; umpama lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul, lingkar lengan, dan lain-lain.
Pertumbuhan dapat dicontohkan sebagai berikut :
v  Pertumbuhan                                                                                                   Seorang bayi yang lahir dengan ukuran fisik yang masih pendek dan kecil. Semakin lama akan mengalami perubahan sesuai dengan umurnya, tubuh bertambah tinggi atau panjang yang dapat diketahui dengan pengukur tinggi badan atau berat badan semakin banyak yang dapat diketahui dengan menimbangnya juga, dan lainnya yang berkaitan dengan fisik. Dalam pertumbuhan itu tidak mengalami penurunan selalu menjadi lebih sempurna.

Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Dalam perkembangan tidaklah terbatas pada semakin sempurna tetapi juga terkandung serangkaian perubahan secara terus menerus secara pasti, melalui suatu tahap yang sederhana ke tahap berikutnya yang semakin tinggi dan maju walaupun sulit diukur dengan alat ukur.
Seifert dan Hoffnung (1994) mendefinisikan sebagai “long-term changes in a person’s growth, feelings, patterns of thinking, social relationships, and motor skills.” Sementara itu , Chaplin (2002) mengartikan perkembangan sebagai: (1) perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati, (2) pertumbuhan, (3) perubahan dalam bentuk dan dalam intregrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke dalam bagian-bagian fungsional, (4) kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak di pelajari.
 Menurut Reni Akbar Hawadi (2001), “perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang di miliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. Di dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia, yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian.”
Perkembangan dapat dicontohkan sebagai berikut :
v  Perkembangan                             
  Seorang bayi awalnya lahir dengan struktur jaringan dan fungsi organ yang masih sederhana. Mereka hanya bisa berguling-guling belum bisa seutuhnya bergerak dan semakin lama ada perubahan sedikit-demi sedikit. Bisa merangkak, tahu orang-orang disekitar, belajar berjalan dan belajar berbicara sehingga otot dan kekuatan jaringan syarafnya semakin sempurna. Setelah itu mereka dapat mengembangkan suatu perubahan dari proses belajar. Anak yang dari kecil di ajari main sepak bola sehingga anak tesebut sudah mendapatkan suatu pengalaman sehingga sampai dewasa mereka pintar bermain sepak bola. Atau anak yang dari kecil sudah diajari computer saat tumbuh dewasa, anak tersebut akan mengembangkan pengalamannya belajar computer. Karena tidak dipungkiri bahwa pengalaman akan berpengaruh dalam proses perkembangan individu. Tetapi perkembangan juga akan mengalami proses penurunan setelah perubahan yang dialami sudah pada puncaknya. Dan setelah itu akan mengalami penurunan dan kerusakan sedikit demi sedikit dari setiap jaringan, seperti seseorang yang mengalami penurunan dalam daya ingatan dan fisiknya hingga individu itu meninggal dunia.
           
Pertumbuhan dan perkembangan membawa manusia kepada kedewasaan. Setelah dewasa, manusia dapat menghasilkan keturunan sehingga populasi manusia akan terjaga kelestariannya. Sekarang, coba kamu bayangkan jika tidak terjadi pertumbuhan dan perkembangan pada manusia? Mungkin populasi manusia akan punah. Begitu juga dengan hewan dan tumbuhan. Jika hewan dan tumbuhan tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangan, maka akan mengalami kepunahan.
2.2 Aspek-aspek yang Mempengaruhi Pertumbuhan
-          Faktor-faktor sebelum lahir
Misalnya: peristiwa kekurangan nutrisi pada ibu dan janin; janin terkena virus, keracunan sewaktu bayi ada di dalam kandungan; terkena infeksi oleh bakteri syphilis, terkena penyakit gabag, TBC, kholera, typhus, gondok, sakit gula (diabetes melitus), dan lain-lain.
-          Faktor ketika lahir, antara lain ialah: intracranial haemorahage atau pendarahan pada bagian kepala bayi, disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan. Dan oleh defek pada susunan syaraf pusat, karena kelahiran bayi dengan bantuan tang (tangverlossing).
-          Faktor sesudah lahir, antara lain: oleh pengalaman traumatik (luka-luka) pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena bayi terjatuh; kepala terpukul atau mengalami erangan sinar matahari (zonnesteek) . infeksi pada otak atau selaput otak, misalnya oleh penyakit cerebral meningitis, gabag, malaria tropika, dyptheria, radang kuning bernanah, dan lain-lain. Kekurangan nutrisi atau zat makanan dan gizi. Semua penyebabtersebut di atas menyebabkan pertumbuhan bayi dan anak sangat terganggu.
  Bayi-bayi yang di lahirkan oleh ibu-ibu dari golongan sosial ekonomis yang rendah pada umumnya tubuhnya lebih kecil dari pada bayi-bayi yang dilahirkan dari klas menengah dan tinggi. Hal ini disebabkan antara lain oleh kekrangan gizi dan kurang sempurnanya .perawatan kesehatan.
-          Faktor psikologis: antara lain bayi di tinggalkan oleh ibu, ayah atau kedua orang tuanya. Sebab lain ialah anak-anak di titipkan dalam suatu institusionalia (Rumah sakit, rumah yatim piatu, yayasan perawatan bayi, dan lain-lain). Sehingga mereka kurang sekali mendapatkan perawatan jasmaniah dan cinta kasih. Anak-anak tersebut mengalami innanitie psikis (kehampaan psikis, kering dari perasaan), sehingga mengakibatkan retardasi/kelambatan pertumbuhan pada semua fungsi jasmaniah. Juga ada hambatan fungsi rokhaniah ; terutama sekali pada perkembangan intelegensi dan emosi.
2.3 Aspek-aspek yang mempengaruhi perkembangan
Perkembangan anak tidak berlangsung secara mekanis-otomatis. Sebab perkembangan tersebut sangat bergantung pada beberapa faktor/aspek; secara garis besar, faktor-faktor dibedakan atas 3 faktor yaitu  1) Faktor yang berasal dari dalam individu, 2) Faktor yang berasal dari luar individu, dan 3) faktor-faktor umum.
2.3.1 Faktor-faktor yang Berasal Dari Dalam Individu
Semenjak dari dalam kandungan, janin tumbuh menjadi besar dengan sendirinya, dengan kodrat-kodrat yang dikandungnya sendiri. Di antara faktor-faktor di dalam diri yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan individu adalah:
Bakat atau pembawaan
Anak di lahirkan dengan membawa bakat-bakat tertentu. Bakat ini dapat di umpamakan sebagai bibit kesanggupan atau bibit kemungkinan yang terkandung dalam diri anak. Setiap individu memiliki bermacam-macam bakat sebagai pembawaannya, seperti bakat musik, seni, agama, akal yang tajam dan sebangainya. Anak yang menpunyai bakat musik misalnya, niscaya minat dan perhatiannya akan sangat besar terhadap musik. Ia akan mudah mempelajarinya, mudah mencapai kecakapan-kecakapan yang berhubungan dengan musik. Ia dapat mencapai kemajuan dalam bidang musik, bahkan mungkin mencapai prestasi luar biasa, seperti ahli musik, pencipta lagu, apabila didukung oleh pendidikan dan lingkungan yang memadai, sebab bakat hanya berarti kemungkinan,bukan berarti keharusan. Dengan demikian jelaslah bahkan bakat atau pembawaan mempunyai pengaruh terhadap perkembangan individu
Sifat-sifat keturunan
Sifat-sifat keturunan yang individu dipusakai dari orangtua atau nenek moyang dapat berupa fisik dan mental. Mengenai fisik misalnya bentuk muka (hidung), bentuk badan, suatu penyakit. Sedangkan mengenai mental misalnya sifat pemalas, sifat pemarah, pendiam, dan sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa sifat-sifat keturunan ikut menentukan perkembangan seseorang. Mesipun demikian, karna sifat-sifat keturunan seumpama bibit, yang tumbuhnya dapat dipengaruhi dan dipupuk kearah yang baik atau yang buruk, maka ini berarti bahwa pendidikan dan lingkungan dapat menghambat tumbuhnya sifat-sifat yang buruk dan mengembangkan sifat-sifat yang baik.
Dorongan dan instink
Dorongan adalah kodrat hidup yang mendorong manusia melaksanakan sesuatu atau bertindak pada saatnya. Sedangkan instink atau naluri adalah kesangupan atau ilmu tersembunyi yang menyuruh atau membisikan kepada manusia bagaimana cara melaksanakan dorongan batin. Dengan perkataan lain, instink adalah suatu sifat  yang dapat menimbulkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan tanpa didahului dengan latihan. Kemampuan instink ini pun merupakan pembawan sejak lahir, yang dalam psikologi kemampuan instink ini termasuk kapabilitas yaiu kemampuan berbuat sesuatu dengan tanpa melalui belajar.
     Jenis-jenis tingkah laku manusia yang digolongkan instink ini ialah:
a )   Melarikan diri (flight ) karena perasaan takut ( fear )
b )   Menolak ( repulsion ), karena jijik ( disgis )
c )   Ingin tahu ( curiosity ) karena menakjubkan sesuatu ( wonder )
d )   Melawan  ( pugnacity ) karena kemarahan ( anger )
e )   Merendahkan diri ( self abasemant ) karena perasaan mengabdi ( subjection )
f)  Menonjolkan diri ( self assertion ) karena adanya harga diri atau manja     (elation)
g)   orang tua (parental) karena perasaan halus budi ( tender )
h)   Berkelamin (seksual) karena keinginan mengadakan reproduksi
i)   Berkumpul (acquisition) karena keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
j)   Mencapai sesuatu (quistion) karena ingin bergaul/ bermasyarakat.
k)  Membangun sesuatu (contruction) kerena mendapatkan kemajuan.
l)   Menarik perhatian orang lain (appeal) karena ingin diperhatikan orang lain.
      Tiap anak dilahirkann dengan dorongan-instink yang dikandung di dalam jiwanya. Ada dorongan yang selama perkembangan berlangsung atau selama hidup manusia aktif terus mempengaruhi hidup kejiwaan, seperti dorongan mempertahankan diri, dorongan seksual, dan dorongan sosial. Dorongan mempertahankan diri misalnya tampak pada bayi ketika mencari makanan. Dengan instink yang dimilikinya ia berusaha mencari susu ibunya, sehingga memperoleh makanan untuk mempertahankan hidupnya. Dorongan dan instink ini juga sangat besar dalam perkembangan individu.

2.3.2 Faktor-faktor yang Berasal Dari Luar Diri Individu
    Sebagaimana telah dijelaskan bahwa perkembangan itu didorong dari dalam, dan dorongan itu dapat melaju atau terhambat oleh faktor-faktor yang berada di luar dirinya. Di antara faktor-faktor luar yang mempengaruhi perkembangan individu adalah:
Makanan
Makanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan individu. Hal ini terutama pada tahun-tahun pertama dari kehidupan anak, makanan merupakan faktor yannng sangat penting bagi pertumbuhan yang normal dari setiap individu. Oleh sebab itu dalam rangka perkembangan dan pertumbuhan anak menjadi sehat dan kuat, perlu memperhatikan makanan ,tidak saja dari segi kualitas ( jumlah ) makanan yang dimakan, melankan juga dari segi kualitas ( mutu )makanan itu sendiri. Makanan yang banyak hanya akn mengenyangkan perut, tetapi gizi yang cukup akan menjamin pertumbuhan yang sempurna.
       Akan tetapi, apabila ditinjau dari perspektif agama ( islam ), makanan yang mengandung gizi saja belum cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, melainkan harus disempurnakan dengan tingkat kehalalan dan kebersihan dari makanan itu sendiri, sebagaimana firman Allah: “ dan makanlah makanan yang halal lage baik dari apa yang telah direzekikan kepadamu ... ( QS. AL-Maidah: 88).”
     Pentingnya menperhatikan kualitas makanan dari segi kehalalannya ini adalah karena menurut islam makanan mempunyai pengaruh yang besar, tidak saja terhadap pertumbuhan dan kesehatan jasmani manusia, melainkan juga terhadap perkembangan jiwa, pikiran dan tingkah laku seseorang. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh seorang ulama kontemporer, Syaikh Taqi Falsafi, dalam bukunya Child between Heredity and Education, yaitu:
Pengaruh dari campuran (senyawa) kimiawi yang di kandung oleh makanan terhadap aktivitas jiwa dam pikiran manusia belum di ketahui secara sempurna, karena belum diadakan eksperimen secara memadai. Namun, tidak dapat di ragukan bahwa perasaan manusia dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan
              Dengan demikian jelas betapa makanan mempunya pengaruh besar bukan saja terhadap pertumbuhan jasmani manusia, tetapi juga terhadap perkembangan jiwa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minuman keras merupakan langkah awal yang mengakibatkan  langkah berikut dari pada penahat.  Masyarakat juga cenderung meyakini bahwa anak  yang diberi makn oleh orangtuanya dengan makanan-makanan yang haram, seperti dari hasil penncurian, penipuan, hasil korupsi, dan sebagainya, akan memiliki tingkah laku yang buruk.


Iklim
Iklim atau keadaan cuaca juga perpengaruh terhadap perkembangan kehidupan anak. Sifat-sifat indifidu dan jiwa bangsa yang berada dalam iklim yang bersangkunan. Seseorang yang hidup dalam  iklim tropis yang kaya rasa misalnya, akn melihat jiwanya lebih tenang, lebih”nrimo”, dibandingkan dengan seseorang yang hidup dalam iklim dingin, karena iklim tropis keadaan alamnya tidak “sekeras “di iklim dingin, sehingga perjuangan hidupnya pun cenderung lebih santai.
         Hal ini juga terlihat besar pada tubuh seorang anak, kesehatan dan kematangan usianya banyak dipengaruhi oelh banyaknya  udara yang segar dan bersih seta sinar matahari yang diperolehnya, khususnya pada tahun-tahun pertama dari kehidupanya. Kenyataan itu akan lebih nyata jika kita membandingkan antara anak-anak yang hidup dilingkungan yang baik dan sehat dengan anak-anak yang hidup dilingkungan yang buruk (kumuh) dan tidak sehat.
       Keadaan iklim dan lingkungan tersebut cukup berpengaruh terhadap pertumbuahan fisk dan perkembangan mental anak, meskipun para ahli masih terus berdebat tentang sejauh mana pengaruh-pengaruh itu terjadi pada perkembangan seorang anak.
Kebudayaan
Latar belakang budaya suatu bangsa sedikit banyak juga mempengaruhi perkembangan seseorang. Misalnya latar belakang budaya desa, kedaan jiwanya masih murni, masih yakin akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, akan tebih tenang, karena jiwanya masih berda dalam linkungan kultur, kebudayaan bangsa sendiri yang mengandung petunjuk-petunjuk dan falsafah yang diramu dari pandangan hidup keagamaan. Lain halnya dengan seseorang yang hidup dalam kebudayaan kots yang sudah dipengarhi oleh kebudayaan asing.
Ekonomi
Latar belakang ekonomi juga berpengaruh terhadap perkembangan anak. Orang tua yang ekonominya lemah, yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan pokok anak-anaknya dengan baik, sering kurang memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak-anaknya. Mereka menderita kekurangan-kekurangan secara ekonomis, sehingga menghambat pertumbuhan jasmani dan perkembangan jiwa anak-anaknya. Bahkan tidak jarang tekanan ekonomi mengakibatkan pada tekanan jiwa, yang pada gilirannya menimbulkan konflik antara ibu dan bapak, antara anak dan orang tua, sehangga melahirkan rasa rendah diri pada anak.
Kedudukan anak dalam lingkungan keluarga
Kedudukan anak dalam lingkungan keluarga juga mempengaruhi perkembangannya. Bila anak itu merupakan anak tunggal, biasanya perhatian orang tua tercurah kepadanya, sehingga ia cenderung memiliki sifat-sifat seperti: manja kurang bisa bergaul dengan teman-teman sebayanya,menarik perhatian dengan cara yang kekanak-kanakan dan sebagainya. Sebaliknya, seorang anak yang mempunyai banyak saudara, jelas orangtua akan sibuk membagi perhayian terhadap saudara-saudaranya itu. Oleh sebab itu anak kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya dalam suatu keluarga menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibandingkan dengan anak yang pertama. Hal ini dimungkinkan karena anak-anak yang lebih muda akan banyak meniru dan belajar dari kakak-kakaknya.
         Meskipun demikian, anak bungsu akan terlihat lebih lamban perkembangannya, karena dalambeberapa hal sangat bergantung pada kakak-kakaknya, sehingga kurang mendapat dorongan untuk berkembang sendiri, dan sifatnya yang manja itu ikut pula menghambat perkembangan.

2.3.3 Faktor-faktor Umum
Faktor-faktor umum maksudnya unsur-unsur yang dapat di golongkan ke dalam kedua penggolongan tersebut di atas, yaitu faktor dari dalam dan dari luar diri individu. Dengan kata lain, jika faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan itu merupakan campuran dari kedua unsur tersebut, maka dikatakan sebagai faktor umum. Di antara faktor-faktor umum yang memepengaruhi perkembangan individu adalah:
Itelegensi
Itelegensi merupakan salah satu faktor umum yang memepengaruhi perkembangan anak. Tingkat itelegensi yang tinggi erat kaitannya dengan kelambanan perkembangan. Dalam hal berbicara misalnya, anak yang cerdas sudah dapat berbicara dalam usia 11 bulan,anak yang rata-rata kecerdasannya pada usia 16bulan, bagi kecerdasannya yang sangat rendah pada usia 34 bulan, sedangkan bagi anak-anak idiot baru bisa berbicara pada usia 52 bulan.
Jenis kelamin
Jenis kelamin juga memegang peranan yang penting dalam perkembangan fisik dan mental seseorang anak. Dalan hal anak yang baru lahir misalnya, anak laki-laki sedikit lebih besar dari pada anak perempuan, tetapi anak perempuan kematangannya, anak perempuan lebih dahulu dari anak laki-laki.
Kelenjar gondok
Penelitian dalam bidang endocrinologi menunjukan betapa pentingnya peranan yang di mainkan oleh kelenjar gondok terhadap perkembangan fisik dan mental anak-anak. Kelenjar gondok ini mempengaryhi perkembangan baik pada waktu sebelum lahir, maupun pada pertumbuhan dan perkembangan sesudahnya.
Kesehatan
Kesehatan juga merupakan salah satu faktor umum yang mempengaruhi  sempurna akan mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang memadai. Sebaliknya mereka yang mengalami gangguan kesehatan, baik secara mental maupun fisik, perkembangan dan pertumbuhannya juga akan mengalami hambatan.
Ras
Ras juga turut mempengaruhi perkembangan seseorang. Misalnya, anak-anak dari ras mediterranean (sekitar laut tengah) mengalami perkembangan fisik lebih cepat di bandingkan dengan anak-anak dari bangsa Eropa Utara. Demikian pula anak-anak negro dan ras indian, ternyata perkembangannya lebih cepat di bandingkan
dengan anak-anak dari ras bangsa-bangsa yang berkulit putih dan kuning.
2.4 Fase-Fase Pertumbuhan dan Perkembangan

2.4.1 Fase – fase pertumbuhan
Fase embrionik
Yaitu fase pertumbuhan selama masa embrio yang diawali dengan peristiwa fertilasi  yaitu peristiwa pertemuan antara sel sperma dengan sel ovum  dan akan menghasilkan  zygot.
Fase pasca embrionik
Yaitu fase pertumbuhan makluk hidup  setelah fase embrio, terutama penyempurnaan alat-alat  reproduksi setelah  dilahirkan. Pada fase  ini pertumbuhan yang terjadi ialah peningkatan ukuran bagian-bagian tubuh.

2.4.2 Fase-fase Perkembangan anak
   Fase perkembangan maksudnya adalah penahapan atau periodesasi rentang kehidupan manusia yang di tandai oleh ciri-ciri atau pola-pola tingkah laku tertentu. Meskipun masing-masing anak mempunyai masa perkembangan yang berlainan satu sama lain, apabila di pandang secara umum, ternyata terdapat tanda-tanda atau ciri-ciri perkembangan yang hampir sama antara anak satu dengan lainnya.Untuk mendapatkan wawasan yang jelas mengenai perkembangan anak, orang membagi masa perkembangan dalam beberapa periode. Adapun sebabnya adalah sebagai berikut: “Pada saat-saat perkembangan tertentu, anak-anak secara umum  memperlihatkan ciri-ciri dan tingkah laku karakteristik yang hampir sama”.
   Atas dasar inilah para sarjana-sarjana ilmu jiwa anak mengemukakan pembagian peride tadi menurut pertimbangan sendiri. Hal ini terutama disebabkan oleh karena batas-batas yang jelas dari masa-masa perkembangan itu memang tidak bisa dipastikan dengan seksama. Di samping pembagian fase-fase perkembangan tersebut dilandasi dengan macam-macam pertimbangan pribadi pengarangnya. Setiap pencetus teori ingin menonjolkan beberapa aspek yang khas dalam setiap fase. Misalnya menampilkan secara khusus perkembangan Ego, perkembanngan itelegensi, bimbingan sekolah, perkembangan seksualitas, masa-masa kritis, dan sebagainya. Oleh karena itu terbuka banyak kemungkinan bagi setiap penulis untuk mengemukakan pendapat masing-masing. Sekalipun begitu, pembagian-pembagian tadi pada intinya mengandung unsur kesamaan
   Dalam ilmu jiwa perkembangan kita kenal beberapa pembagian masa-hidup anak, yang di sebut sebagai fase atau perkembangan. Fase perkembangan ini mempunyai ciri-ciri yang relatif sama, berupa kesatuan-kesatuan peristiwa yang bulat. Secara garis besarnya terdapat empat dasar pembagian fase-fase perkembangan ini, yaitu: (1) Fase perkembangan bedasarkan ciri-ciri biologis, (2) Konsep didaktis, (2) Ciri-ciri psikologis, dan (4) konsep tugas perkembangan.
Fase perkembangan berdasarkan ciri – ciri biologis
Titik berat fase – fase perkembangan ini berdasarkan pada gejala – gejala perubahan fisik anak, atau didasarkan atas proses biologis tertentu. Periodesasi perkembangan seperti ini diantaranya dikemukakan oleh :
 Aristoteles
 Perkembangan menurut pendapat Aristoteles ( Agus Sujanto, 1982:59)  membagi masa perkembangan/fase perkembangan  selama 21 tahun dalam 3 septenia ( 3 periode kali 7 tahun) yang di batasi oleh gejala alamiah yang penting; yaitu (1) gigi (2) munculnya gejala-gejala pubertas. Hal ini di dasarkan pada paralelitas perkembangan jasmaniah dengan perkembangan jiwani anak. Pembagian tersebut adalah sebagai berikut:
(1) 0,0-7,0        ̶ masa anak kecil  ̶  masa bermain, yang diakhiri dengan   tanggal (pergantian) gigi.
(2) 7,0-14,0      ̶ masa anak, masa belajar yang di mulai dari tumbuhnya gigi baru sampai timbulnya gejala berfungsinya kelenjar-kelenjar kelamin
(3)14,0-21,0     ̶ masa pubertas  ̶  menuju dewasa, masa ini dimulai dari mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin sampai akan memasuki masa dewasa
Fase Perkembangan Berdasarkan Konsep Didaktif (Pendidikan)
          Dasar yang digunakan untuk menentukan pembagian fase-fase perkembangan adalah materi dan cara bagaimana mendidik anak pada masa-masa tertentu. Menurut Johann Amos Comenius penbagian fase-fase perkembangan ini di bagi atas 4 fase yaitu:
1. 0 – 6 `tahun adalah sekolah ibu, merupakan mengembangkan alat-alat indra dan  memperoleh pengetahuan dasar di bawa asuhan ibunya.
2. 6 – 12 tahun adalah sekolah bahasa ibu, merupakan masa anak mengembangkan daya ingatnya di bawa pendidikan sekolah rendah.
3. 12 – 18 tahun adalah sekolah bahasa latin, merupakan masa mengembang mengenbangkan daya pikirnyadi bawa pendidikan sekolah menengah.
4. 18 – 24 tahun adalah sekolah tinggi dan pengembaraan, merupakan masa mengembangkan kemauannya dan milih suatu lapangan hidup yang berlangsung di bawa perguruan tinggi.
Fase perkembangan berdasarkan ciri-ciri psikologis
Periodesasi ini didasarkan atas ciri-ciri yang menonjol, yang menandai masa dalam periode tersebut. Periode ini di kemukakan oleh
Oswald Kroch
Ciri-ciri psikologis yang di gunakan Oswald Kroch yang di pandang terdapat pada anak-anak umumnya adalah pengalaman keguncangan jiwa yang di manesfestasikan dalam sifat trotz atau sifat keras kepala. Atas dasar ini, ia membagi fase perkembangan menjadi 3 yaitu :
(1). Fase anak awal : umur 0 – 3 tahun. Pada akhir fase ini terjadi trotz     pertama, yang di tandai denga anak serba membantah atau menentang orang lain.
(2). Fase keserasian sekolah : umur 3 – 13 tahun. Pada akhir masa ini timbul trotz yang ke 2, dimana anak mulai serba membantah lagi. Suka menentang kepada orang lain, terutama terhadap orang tuanya.
(3). Fase kematangan : umur 13 – 21 tahun, yaitu setelah berakhirnya gejala-gejala trotz kedua, anak mulai menyadari kekurangan dan kelebihan yang dihadapi dengan sikap yang sewajarnya.
Fase Perkembangan Berdasarkan Konsep Tugas Perkembangan
 Tugas perkembangan adalah berbagai ciri perkembangan yang diharapkan timbul dan dimiliki setiap anak pada setiap masa dalam periode perkembangannya. Periodesasi ini dikemukakan oleh Robert J.Havighurst yaitu:
(1) Masa bayi dan kanak-kanak ( infancy and early childhood): umur 0-6 tahun.
(2) Masa sekolah atau pertengahan kanak-kanak (middle childhood) umur 6-12 tahun .
(3) Masa remaja (adolescence): umur 12-18 tahun.
(4) Masa awal dewasa (early adulthood): umur 18-30 tahun.
(5) Masa dewasa pertengahan (middle age): umur 30-50 tahun
(6) Masa tua (latter maturity): 50 tahun ke atas
2.5 Fase-fase Psikoseksual Anak
      Ada fase-fase psikologis yang harus di lalui tiap individu. Antara lain fase psikoseksual yaitu tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan fungsi seksual yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis individu tersebut. Tiap individu akan mengalami fase/tahap psikoseksual dalam tiap tahap perkembangan umurnya (0-18 tahun). Bila individu tersebut gagal melewati suatu masa yang harus di laluinya sesuai dengan tahap perkembangannya maka akan terjadi gangguan pada diri orang tersebut. Pada kesempatan ini kita akan melihat fase-fase psikoseksual yang pasti dilalui setiap individu sesuai dengan tahap perkembangannya. Fase-fase tersebut adalah
1. Fase oral/mulut (0-18 bulan)
Yaitu fase pertama yang harus dilalui oleh seorang anak seak dilahirkan. Pada bulan-bulan pertama kehidupan, bayi manusia lebih tidak berdaya dibandingkan bayi binatang menyusui lainnya. Pada mulanya bayi tidak dapat membedakan antara bibirnya dengan puting susu ibunya, yaitu asosiasi antara rasa kenyang dengan pemberian asi. Bayi hanya sadar akan kebutuhannya sendiri dan pada waktu menunggu terpenuhi kebutuhannya, bayi menjadi frustasi dan baru sadar akan adanya obyek pemuas pada waktuvkebutuhannya terpenuhi. Inilah pengalaman pertama kesadaran akan obyek di luar dirinya. Jadi kelaparan menuntutnya untuk mengenal dunia luar. Reaksi primitif pertama terhadap obyek yaitu bayi berusaha memasukan semua benda yang di pegangnya ke mulut. Bayi merasa bahwa mulut adalah tempat pemuasan (oral gratification). Rasa lapar dan haus terpenuhi dengan menghisap puting susu ibunya.
Kebutuhan-kebutuhan, prepepsi-prepepsi dan caramekspresi bayi secara primer di pusatkan di mulut, bibir, lidah dan organ lain yang berhubungan dengan daerah mulut. Dorongan oral terdiri dari 2 komponen yaitu dorongan libido dan dorongan agresif.
Dorongan libido yaitu dorongan seksual pada anak, yang berbeda dengan libido orang dewasa. Dorongan libido merupakan dorongan primer dalam kehidupan yang merupakan sumber energi dari ego dalam mengadakan hubungan dengan lingkungan, sehingga memungkinkan pertumbuhan ego. Ketegangan oral akan menbawa pada pencarian kepuasan oral yang di tandai dengan diamnya bayi pada akhir menyusui. Sedangkan
dorongan agresif dapat terlihat dalam perilaku menggigit,  menguyah, meludah, dan menangis. Pada fase oral ini, peran ibu penting untuk memberikan kasih sayang dengan memenuhi kebutuhan bayi secepatnya. Jika semuanya kebutuhan bayi terpenuhi, bayi akan merasa aman, percaya pada dunia luar. Hal ini merupakan dasar perkembangan selanjutnya dalam berhubungan dengan dunia luar. Jika pada fase oral ini bayi merasakan kekecewaan yang mendalam, hal ini akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Pada waktu dewasa akan mengalami gangguan tingkah laku seksual misalnya kepribadian oral sadistik yang dimanifestasikan dalam penyimpangan seksual
Sadisme, yaitu kepuasan seks yang dicapai bila di dahului atau disertai tindakan yang menyakitkan. Sebaliknya, bila bayi mendapat kepuasan yang berlebihan maka dalam perkembangan selanjutnya dapat menjadi sangat optimis, narcistik (cinta diri sendiri), dan selalu menuntut.
2. Fase anal (1 ½-3 tahun)
fase ini ditandai dengan matangnya syaraf-syaraf otot sfinger anus sehangga anak mulai bisa mengendalikan beraknya. Pada fase ini kepuasan dan kenikmatan anak terletak pada anus. Kenikmatan didapatkan pada waktu menahan berak. Kenikmatan lenyap setelah berak selesai. Jika kenikmatan yang sebenarnya di peroleh anak dalam fase ini ternyata diganggu orang tuanya dengan mengatakan bahwa hasil produksinya kotor, jijik dan sebagainya, bahkan jika disertai dengan kemarahan atau bahkan ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan, maka hal ini dapat mengganggu perkembangan kepribadian anak. Dimana pada perkembangan seksualitas dewasa anak merasa jijik (kotor) terhadap alat kelaminya sendiri dan tidak dapat menikmati hubungan seksual denganpartnernya.
 Oleh karena itu sikab orangtua yang benar yaitu mengusahakan agar anak merasa bahwa alat kelamin dan anus serta kotoran yang dikeluarkannya adalah sesuatu yang biasa (wajar) dan bukan sesuatu yang menjijikan. Hal ini penting karena akan mempengaruhi pandangannya terhadap seks nantinya. Jika terjadi hambatan pada mengembangkan sifat-sifat tidak konsisten, kerapian, keras kepala, kesengajaan, kekikiran yang merupakan karakter anal yang berasal dari sisa-sisa fungsi anal. Jika pertahanan terhadap sifat-sifat anal kurang efektif, karakter anal menjadi ambilavensi (ragu-ragu) berlebihan, kurang rapi, suka menentang, kasar sasomsokistik (dorongan untuk menyakiti dan disakiti). Karakter anal yang khas terlihat pada penderitaan obsesif kompulsif. Penyelesaian fase anal yang berhasil, menyiapkan dasar untuk perkembangan kemandirian, kebebasan, kemampuan untuk menentukan perilaku sendiri tanpa rasa malu dan ragu-ragu, kemampuan untuk menginginkan kerjasama yang baik tanpa perasaan rendah diri
3. fase uretral
Pada fase ini merupakan perpindahan dari fase anal ke fase phallus. Erotik uretral mengacu pada kenikmatan dalam pengeluaran dan penahanan air seni seperti pada fase anal. Jika fase uretral tidak dapat diselesaikan dengan baik, anak akan mengembangkan sifat uretral yang menonjol yaitu persaingan dan ambisi sebagai akibat timbulnya rasa malu karena kehilangan kontrol terhadap uretra. Jika fase ini dapat di selesikan dengan baik, maka anak akan mengembangkan persaingan sehat, yang menimbulkan rasa bangga akan kemampuan diri. Anak laki-laki meniru dan membandingkan dengan ayahnya. Penyelesaian konflik uretra merupakan awal dari identitas gender dan identifikas selanjutnya.
4. Fase phallus (3-5 tahun)
Pada fase ini anak mulai mengerti bahwa kelaminnya berbeda dengan kakak, adik atau temannya. Anak mulai merasakan bahwa kelaminnya merupakan tempat yang memberikan kenikmatan ketika ia mempermainkan bagian tersebut. Tetapi orangtua sering marah bahkan mengeluarkan ancaman bila melihat anaknya memegang atau mempermainkan kelaminnya. Pada fase ini, anak laki-laki dapat timbul rasa takut bahwa penisnya akan dipotong (dikebiri). Ketakutan yang berlebihan tersebut dapat menjadi dasar penyebab gangguan seksual seperti impotensi primer dan homoseksual.
 Pada fase ini muncul rasa erotik anak terhadap orangtua dari jenis kelamin yang berbeda. Rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang berhubungan dengan seks tampak dalam tingkah laku anak, misalnya membuka rok ibunya, meraba buah dada atau kelamin orang tuanya. Daya erotik anak laki-laki terhadap ibunya, disertai rasa cemburu terhadap ayahnya, dan keinginan untuk mengganti posisi ayah  di samping ibu, di sebut kompleks Oedipus. Untuk anak wanita disebut kompleks elektra. Komplek elektra biasanya disertai rasa rendah diri karena tidak mempunyai kelamin seperti anak laki-laki dan merasa takut jika terjadi kerusakan pada alat kelaminnya. Bila kompleks Oedipus/elektra tidak dapat di selesaikan dengan baik, dapat menyebabkan gangguan emosi pada kemudian hari.
5. Fase latensi (5/6-11/13 tahun)
pada fase ini semua aktifitas seakan-akan tertekan, karena perhatian anak tertuju pada hal-hal di luar rumah. Tetapi keingin tahuan tentang seksualitas tetap berlanjut. Dari teman-teman sejenisnya anak-anak juga enerima informasi tentang seksualitas yang sering menyesatkan. Keterbukaan dengan orangtua dapat meluruskan informasi yang salah dan menyesatkan itu. Pade fase ini dapat terjadi gangguan hubungan homoseksual pada laki-laki maupun  perempuan. Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kurang berkembangnya kontrol diri sehingga anak gagal mengalihkan energinya secara efisien pada minat belajar dan pengembangan ketrampilan.
6. Fase genital (11/13-18 tahun)
Pada fase ini, proses perkembangan psikoseksual mencapai “titik akhir”. Organ-organ seksual mulai aktif sejalan dengan mulai berfungsinya hormon-hormon seksual sehingga pada saat ini terjadi perubahan fisik danpsikis. Secara fisik,  perubahan yang paling nyata adalah pertumbuhan tulang dan perkembangan organ seks serta tanda-tanda seks sekunder. Remaja putri mencapai kecepatan pertumbuhan maksimal pada usia sekitar 12-13 tahun, sedangkan remaja putra sekitar 14-15 tahun. Akibat perbedaan waktu ini, biasanya para gadis tampak lebih tinggi dari pada anak laki-laki seusia pada periode umur 11-14 perkembangan tanda seksual sekunder para gadis adalah pertumbuhan payudara, tumbuh rambut pubes dan terjadinya menstruasi, pantat mulai membesar, pinggang ramping dan suara feminim. Serangkan pada anak laki-laki terlihat buah pelir dan penis mulai membesar, tumbuh rambut pubes, rambut kumis, suara mulai membesar. Terjadi mimpi basah, yaitu keluar air mani saat tidur (mimpi basah). Bersamaan dengan perkembangan itu muncullah gelombang nafsu birahi baik pada laki-laki maupun wanita. Secara psikis, remaja mulai mengalami rasa cinta dan tertarik pada lawan jenisnya. Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kekacauan identitas.
Fase-fase Psikoseksual menurut Sigmun Freud
        Menurut Sigmun Freud setiap orang akan melampaui lima tahap/fase perkembangan psikoseksual dan pada setiap tahapan tersebut kita akan memperoleh kenikmatan pada satu bagian tubuh lebih dari pada bagian tubuh yang lainya. Adapun fase-fase perkembangan psikoseksual yang dimaksud oleh Freud yaitu
1. Tahap mulut (oral stage) ialah tahap pertama kepribadian Freud, yang berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan, dalam mana kehidupan, dalam mana kenikmatan bayi berpusat di sekitar mulut. Mengunyah, menghisap, dan menggigit adalah sumberutama kenikmatan. Tindakan-tindakan ini mengurangi tekanan/ tegangan pada bayi.
2. Tahap anal ( anal stage) ialah tahap kedua kepribadian Freud, yang berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun, dalam mana kenikmatan terbesar anak meliputi lubang anus atau fungsi pengeluaran/pembersihan yang diasosiasikan denganya. Dalam pandangan Freud, latihan otot-otot lubang dubur mengurangi tekanan/ketegangan.
3. Tahap phallic ( phallic stage ) ialah tahap ketiga kepribadian Freud, yang berlangsung antara usia 3 dan 6 tahun; phallic berasal dari kata latin phallus, yang berarti “ alat kelamin laki-laki ( penis ).” Selama tahap phallic, kenikmatan berokus pada alat kelamin, ketika anak menemukan manipulasi diri (self-manipulation) dapat memberi kenikmatan.
      Dalam pandangan Freud, tahap phallic memiliki kepentingan khusus dalam perkembangan kepribadian karena selama periode inilah Oedipus  complex muncul. Istilah ini berasal dari mitologi yunani, dimana Oedipus, putra raja Thebes, tanpa sengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Oedipus complex ialah konsep Freud di mana anak kecil mengembangkan suatu keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang berbeda jenis kelamin denganya. Konsep Oedipus complec Freud di kecam oleh beberapa pakar psikoanalisis dan penulis. Untuk mempelajari lebih dalam tentang kecaman terhadap teori Freud yang berdasarkan kebudayaan dan gender.
   Bagaimana Oedipus complex diatasi? Pada usia kira-kira 5-6 tahun, anak-anak menyadari bahwa orang tua yang sama jenis kelamin denganya dapat menghukum mereka atau keinginan incest mereka ( incestuous wishes). Untuk mengurangi konflik ini, anak mengidentifikasikan diri dengan orang tua yang sama jenis kelamin dengannya, dengan berusaha keras menjadi seperti orang tua yang sama jenis kelaminnya itu. Namun, bila konflik tidak teratasi, individu dapat terfiksasi pada tahap phallic.
4. Tahap laten/tersembunyi (latency stage) ialah tahap ke empat kepribadian Freud, yang berlangsung antara kira-kira usia 6 tahun dan masa puberitas; anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energi anak ke dalam bidang-bidang yang aman secara emosional dan menolong anak melupakan konflik pada tahap phallic yang sangat menekan.
5. Tahap kemaluan ( genital stage ) ialah tahap klimaksdan terakhir pada kepribadian Freud, yang berawal dari masa puberitas dan seterusnya tahap kemaluan ialah suatu masa kebangkitan seksual; sumber kenikmatan seksual sekarang adalah seseorang yang berada di luar keluarga. Freud yakin bahwa konflik yang tidak teratasi dengan orang tua terjadi selama masa remaja. Bila teratasi, individu mampu mengembangkan suatu hubungan cinta yang dewasa yang berfungsi secara mandiri sebagai seorang dewasa.
















   BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, yang berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.Sedangkan, Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.
 Aspek-aspek yang Mempengaruhi Pertumbuhan
-          Faktor-faktor sebelum lahir
-          Faktor ketika lahir
-          Faktor sesudah lahir
-          Faktor psikologi
aspek-aspek perkembangan  dibedakan atas 3 faktor yaitu 
   1) Faktor yang berasal dari dalam individu,
   2) Faktor yang berasal dari luar individu, dan
   3) faktor-faktor umum.
Fase-fase pertumbuhan ada 2 yaitu:
-Fase embrionik
-Fase pasca embrionik
 Terdapat empat dasar pembagian fase-fase perkembangan antara lain, yaitu:
 (1) Fase perkembangan bedasarkan ciri-ciri biologis,

 (2) Fase perkembangan berdasarkan Konsep didaktis,
 (3) Ciri-ciri psikologis, dan
 (4) konsep tugas perkembangan.
Fase-fase Psikoseksual menurut Sigmun Freud ada 5 tahapan yaitu:
 1. Tahap mulut (oral stage)
 2. Tahap anal ( anal stage)
 3. Tahap phallic ( phallic stage )
 4. Tahap laten/tersembunyi (latency stage)
 5. Tahap kemaluan ( genital stage )
3.2 Saran
     Saran kami sebagai pemakala kepada teman – teman, yaitu dengan adanya makala ini teman-teman dapat memahami dan mengetahui tentang perkembangan dan pertumbuhan anak,  serta dapat menerapkan dalam kegiatan belajar-mengajar ataupun kehidupan sehari-hari nantinya..











DAFTAR PUSTAKA
 Kartono, Kartini.( 1995). ”Psikologi Anak”. Bandung: Mandar Maju
 Sujanto,Agus. (1982). “ Psikologi Perkembangan”. Jakarta: Aksara Baru
 Santrock, John.w. “ Life-Span Development”. Jakarta: Erlangga
  Desmita.(2010).”Psikologi Perkembangan Peserta Didik”.Bandung:Rosdakarya