Jumat, 08 Februari 2019

Fase Transisi (Mengenal emosional anak)


Fase transisi
                                                      oleh: Ratna Mettasari, S.Pd



Sekolah bukanlah sebuah mesin yang mencetak anak-anak menjadi sebuah produk, belajar-pulang-belajar-ulangan-pulang-uas-rapotan-naik-lulus. Tetapi sekolah adalah tempat yang mengajarkan nilai-nilai dalam kehidupan  bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Jadi dalam berproses tidak hanya berprinsip apa yang diberikan dan apa yang didapatkan, namun apa yang sudah kita lakukan bersama-sama untuk mencapainya(value).
Menjadi wali kelas 5 bukanlah suatu hal yang mudah yang seperti kita bayangkan. Dalam realita dilapangan kita tidak hanya di hadapkan pada penekanan materi yang kompleks, namun juga pada perubahan fase peserta didik dari fase anak-anak menuju remaja(pubertas). Apakah hal ini berpengaruh? Hal ini ternyata sangat berpengaruh terhadap kepribadian, sikab dan gaya belajar peserta didik dalam sebuah pembelajaran. Maka tak heran jika guru-guru pada tingkatan ini akan banyak mengeluh tentang perubahan perilaku dari yang pendiam menjadi rame, nakal suka ini, suka itu atau dari yang pintar menjadi sedikit menurun, dulu pintar sekarang tidak.
Kepribadian dan sikab dalam tingkatan ini, anak-anak mulai mencari jati diri serta kepribadian sehingga mereka mengeksplor semua yang mereka dapatkan sebelumnya entah itu positif atau negatif untuk mencapai jati diri yang sesuai dengan passion mereka. Pada fase ini peserta didik membutuhkan ruang yang lebih untuk eksistensi atau hanya sekedar pengakuan dari orang lain. Dari sinilah muncul sikab peserta didik yang aneh-aneh seperti membangkang, nakal, rame, suka mengganggu, suka membuat gank, melukai diri sendiri dll.  Bahkan, bisa jadi kebalikan yang sebelumnya dulu nakal sekarang lebih pintar sabar dan pengertian. Dari paparan contoh tersebut peserta didik menunjukkan bahwa mereka membutuhkan ruang eksistensi supaya terlihat dan dilihat. Oleh karena itu, sebagai pendidik kita harus saling bekerjasama dengan orang tua untuk mengarahkan eksistensi tersebut kepada hal-hal yang positif (minat/bakat). Bukan saling menyalahkan salah satu pihak misal orang tua ataupun guru saja.
            Kedua, di tingkatan ini kita juga dihadapkan pada fase pubertas peserta didik. Dalam artian, pada fase ini mereka sudah mulai memandang teman mereka sebagai lawan jenis. Mereka sudah mulai memberi kode-kode kepada lawan jenis untuk membuatnya tertarik (caper). Pada fase ini kita sebagai pendidik harus mampu memposisikan sebagai teman bukan sebagai guru, sehingga akan ada sikab keterbukaan antar siswa dan guru mengenai apa yang peserta didik rasakan siapa yang disukai, kenapa dia suka dan sebagainya. Dan ini juga salah satu hal yang bisa menguntungkan guru. Karena guru akan mudah mengkontrol tindak-tanduk yang mereka lakukan selama di lingkungan sekolah serta dapat memberikan saran yang membangun mental anak.
Tak hanya itu saja,  Pada pembelajaran pada tingkatan ini juga memiliki tantangan tersendiri. Peserta didik tidak hanya menerima materi yang kita berikan, tetapi juga sudah mulai mengaitkan pembelajaran dalam konteks lingkungan / berbasis realita. Sehingga metode dan pendekatan pembelajaran yang dilakukan pada tahap ini bukan teacher center. Tapi perpaduan antara student and teacher center. Kita tidak serta merta mendoktrin peserta didik tapi memberi kesempatan kepada mereka untuk menjelaskan dan merasionalkan dari pengetahuan yang mereka peroleh dengan apa yang kita berikan.
Dari paparan diatas maka dapat kita garis bawahi bahwa menjadi seorang pendidik di tingkat ini tidak cukup dengan kepandaian belaka namun juga harus memiliki kepekaan emosional terhadap apa yang dirasakan peserta didik termasuk perubahan sikab dan prilakunya di masa transisi.

Selasa, 05 Februari 2019

MERETAS BUYLING DI SOSIAL MEDIA DENGAN MENANAMKAN AQIDAH YANG KUAT


MERETAS BUYLING DI  SOSIAL MEDIA DENGAN  MENANAMKAN AQIDAH YANG KUAT
                                                           Oleh: Ratna Mettasari, S.Pd


Di abad ke 20 ini, teknologi informasi dan komunikasi berkembang dan menyebar begitu sangat cepat. Hal ini dapat dibuktikan dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang hampir merata di semua kalangan. Entah itu tua, muda, miskin ataupun kaya hampir semua dapat menikmati perkembangan teknologi tersebut.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tersebut tentunya memiliki dampak yang sangat kuat. Yakni dampak positif dan dampak negative. Dampak positifnya adalah dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memudahkan manusia melakukan berbagai hal yang dulu mustahil untuk dilakukan. Misalnya adalah silaturahmi dengan manusia di seluruh penjuru dunia. Sebelum teknologi informasi dan komunikasi berkembang berkomunikasi dengan orang luar (luar negeri) menjadi kemustahilan. Membutuhkan waktu dan biaya yang sangat banyak. Namun, dengan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi abad ini tak hanya silaturahmi saja. Bahkan kita bisa melakukan beberapa hal dalam satu genggaman saja. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang  tidak bijak ternyata juga memiliki dampak negative. Salah satu dampak negativnya adalah maraknya kriminalisasi melalui teknologi informasi dan komunikasi.
Apakah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi penting bagi kita sebagai ketenaga pendidikan?. Tentu saja, seperti yang dipaparkan di atas bahwa penggunaan perkembangan teknologi tidak hanya di kalangan  tua saja. Tetapi, juga di kalangan muda yaitu anak-anak kita (pesertadidik).
Jenis penggunaan teknologi yang sering di gunakan anak-anak kita? Jenis teknologi yang sering anak-anak kita gunakan adalah media sosial (faceook whatshap,instragram, dll).  Apakah itu berdampak positif? Tentu saja ada positif dan ada dampak negatifnya pula. Jika anak kita menggunakan secara bijak maka tentusaja dampak positif yang akan diterima. Tetapi jika mereka menggunakan secara tidak bijak maka dampak negatiflah yang akan diperoleh mereka.
Dampak negative apakah yang sering anak-anak hadapi dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi? Buylling media sosial. Inilah yang wajib kita ketahui selanjutnya sebagai pendidik. Dampak-dampak perubahan sikab pada peserta didik kita yang disebabkan pengaruh negative media sosial.  Buylling pada media sosial apakah yang dimaksud? Buylling di sini tidak hanya komentar pedas saja, atau perkataan yang menyakiti salah satu pihak. Tetapy buylling yang sering di hadapi anak-anak kita adalah Body Shaming  yang berkaitan dengan fisik ananda kita.
Bagaimana kalau sudah terjadi? Kita harus terlibat dan mengawasi dan yang terpenting mendampingi. Karena hal yang terpenting setelah menjadi korban adalah dengan melakukan pendekataan secara hati. Menasihati dari hati ke hati.
Bagaimana cara meminimalisir dampak yang di sebabkan oleh buylling(before)? Perkembangan itu pasti menghindari itu jangan. Penanaman pondasi yang kuat inilah yang menjadi kunci bagi orang tua maupun pendidik dalam menghadapi dampak negative buylling. Jika pondasinya kuat takkalah mereka dilepas maka mereka akan memiliki pegangan yang sangat kuat. 
Apakah pondasi itu? Alqur’an dan as sunnah. Jika kita benar-benar menancapakan dasar ini kedalam diri anak-anak kita maka jika anak-anak melakukan sesuatu yang bersifat negative maka dia akan mengembalikan kepada al-qur’an dan assunah. Jikalau itu diterapkan di semua anak-anak kita maka buylling akan terminimalisir.
 Teaching point yang bisa kita ambil adalah ada keterlibatan beberapa pihak untuk mengarahkan peserta didik kita kepada hal-hal positif tentu saja ada peran orang tua dan seorang guru yang berperan untuk menancapkan pondasi yang kuat kepada anak-anak kita sebagai bekal menghadapi perkembangan dan dampak-dampak negatifnya. So, kita harus mempersiapkan strategi tepat akurat demi terciptanya generasi emas bebas buylling.

Belajar Menjadi Ibu


BELAJAR MENJADI IBU
Ratna Mettasari, S.Pd




diskusi bersama Bunda Ulfa Guru TK Kalialo

Dua tahun sudah bergabung dengan SD Muhammadiyah 1 Krian. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang telah terukir disini. Mulai dari susah, senang, tangis, tawa hampir tak dapat tergambarkan dalam 1 deskripsi saja. Banyak hal yang tidak saya dapatkan di luar dan saya dapatkan disini dan itu adalah sebuah nikmat yang harus patut saya syukuri setiap waktu.
Mendapat tanggung jawab di dalam kelas adalah hal yang sangat saya syukuri kemudian. Karena dari sanalah saya mendapat berbagai macam pengalaman yang sangat berharga. Termasuk menjadi seorang ibu, ibu bagi anak-anakku.
Jika biasanya saya berinteraksi dengan teman sebaya, mahasiswa, masyarakat luas, politik dan lainnya. Maka  hari ini saya harus  di hadapkan pada anak-anak usia dasar yang memiliki ragam sifat dan karakter yang unik dan membutuhkan strategi penanganan yang tidak biasa dari biasanya. Dari sini saya berfikir, mungkin ada sesuatu yang ingin orang tua saya pelajari di dunia pendidikan.Dan benar saja sejuta pengalaman saya dapatkan disini bersama mereka.
Ketika orang tua murid kita menyekolahkan anaknya di sini maka sepenuhnya mereka mempercayakan mereka kepada kita (Guru Kelas). Maka detik itu juga mereka adalah anak kita. Itulah maind set yang tergambar dalam fikiran saya. Dan benar saja ketika kita mendidik mereka seperti orang tua mereka sendiri, maka mereka akan menganggap kita adalah orang tuanya. Dan itu berbeda dengan seorang pendidik yang hanya mengajar dan pulang.
Letak perbedaannya adalah mereka akan sepenuh hati meletakkan kepercayaannya kepada kita(Guru). Dan itu adalah hal yang sangat luar biasa. Semarah-marahnya guru tersebut ke anaknya (murid). maka ia akan menganggap itu adalah marah cinta kasih sayang kepada mereka. Sehingga, mereka bukan benci terhadap gurunya. Tetapi dia akan meminta maaf dan melakukan hal terbaik kedepannya.
Hal ini jugalah yang saya pelajari selama menjadi guru disini. Memposisikan menjadi ibu bagi mereka. Mendampingi mereka, menguatkan hati mereka dan selalu ada untuk mereka. Mengajari mereka bersosial dan bermasyarakat. Rasa terikat inilah yang membuat saya berat untuk tidak masuk ke sekolah. Pasti saya akan berfikir bagaimana mereka? Kalau ketinggalan bagaimana?siapa yang mendampingi? Ah masuk saja walau sakit, nanti ijin masuk terlambat saja.
Dan jika rasa ini sudah mengikat akan mengikat juga kepada anak-anak peserta didik kita dan hal itu memang benar. Di suatu hari ketika ada event. “nak ibu guru ada tamu, sekolah kita aka nada penilaian! Nanti kalau kelasnya jamkos  jangan ribut, jangan ramai, please….!!! bersikap yang baik karena bu guru tidak mau kamu mempermalukan bu guru dengan tingkahmu ya!! belajar tanggung jawab”. Tak lama kemudian “bu tamunya datang sampeyan turun dulu!”.  Beberapa jam berselang “bu kelas sampeyan tadi bersih-bersih kelas, ngepel, pokoknya wangi banget”. “bu kelas sampeyan tadi diam sekali tanpa kata ada apa ya?tidak gaduh, tertib sekali. Dalam hati “nak trimakasih sudah mengerti”.
Walaupun tanpa disuruh tapi mereka memahami kondisi kita, posisi kita dan itulah yang membuat saya semakin mengerti sesungguhnya mereka banyak mengajari saya tentang arti dan tujuan kehidupan. mereka mengajari saya arti sebuah keluarga. Kelasku bukan tempat persaingan tapi kelasku adalah sebuah keluarga yang jika satu sakit maka semua akan merasa sakit yang sama.
            Hal ini sejalan dengan event bazar kala itu, mereka membawa dagangannya berkeliling. Lelah, panas, dan masih banyak membuat down mereka kala itu. “nak mudah cari uang? Ya ini!! pengusaha tak pernah lelah rugi ya coba lagi, lagi dan lagi. Ya sudah semuanya kumpul dangangan yang tidak habis kita makan bersama. Nanti yang dagangannya laku bu guru kembalikan modal pokok ya? Sisanya buat nambal yg belum kembali modal?”. Subhanallah anakku, betapa bangganya ibu gurumu padamu setiap hari setiap waktu ada yang diajarkan ada yang didapatkan karena setiap hal bu guru harus belajar lebih untuk memahami kaliyan.
Itu adala gambaran jika kita memposisikan seagai ibu mereka. Akan sangat berbeda jika kita memposisikan diri sebagai mesin. Yang terus memproduksi produk-produk setiap tahun. Jika guru itu memarahi maka dia akan dendam dan mencaci maki gurunya. Aku tidak suka sama guru ini dan itu dan sangat menyayat hati sekali jika kita yang sudah mengajar mendapat kata seperti itu.

Belajar tidak hanya diperoleh dari pendidikan bangku formal saja, melalui mereka jugalah kita juga bisa belajar menjadi sesuatu yang berharga.
Pengalaman terbaikku, menjadi bagian dari Keluarga Besar SD Muhammadiyah 1 Krian