PSIKOLOGI UMUM
PERKEMBANGAN
DAN PERTUMBUHAN ANAK
Dosen
Pengampu: Fitriah Eka Wulandari
Disususn Oleh:
1.
Puji Fahruliah ( 118620600162)
2.
Ratna Mettasari ( 118620600196)
3.
Karina Tri Rosanti ( 118620600198)
4.
Fandi Ahmad Munshif ( 118620600195)
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
(PGSD)
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
2011
KATA
PENGANTAR
Puji sukur kehadirat Allah S.W.T. yang
telah memberikan taufiq serta hidayahnya kepada kita semua, sehingga penulis
bisa menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pertumbuhan dan Perkembangan Anak”.
Shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar
Muhammad SAW. Yang telah menuntun kita kejalan yang terang yaitu addinul islam.
Dalam penyusunan Makalah ini, penulis berusaha dan berupaya semaksimal mungkin untuk mengaplikasikan teori-teori yang telah penulis peroleh dari buku-buku literatur yang
berhubungan dengan mata kulia Psikologi Umum, serta tak lepas pula dari bimbingan, arahan
serta dukungan baik materi maupun spiritual dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada:
1.
Fitria Eka Wulandari, M.Pd.
selaku dosen pengampu mata kulia Pendidikan Psikologi Umum.
2.
Rekan-rekan dan semua pihak yang tidak dapat
penulis sebutkan satu-persatu, yang telah membantu dalam penyusunan Makalah ini.
Walaupun penyusunan makalah ini sudah
diusahakan semaksimal mungkin, tapi kami sadar bahwa makalah ini kurang
sempurna, karena kesempurnaan itu hanyalah milik Allah dan kesalahan itu
hanyalah milik penulis. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritikan
dari pihak pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.
Sidoarjo, 10 November 2011
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............................................................................. 2
Daftar isi....................................................................................... 3
BAB I: PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah .......................................................... 4
1.3 Tujuan .......................................................... 5
BAB II : PEMBAHASAN
2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan .......... 6
2.2 Aspek-aspek yang mempengaruhi
Pertumbuhan dan Perkembangan................................ 8
2.3 Fase Pertumbuhan dan Perkembangan.......................... 15
2.4 Fase-fase psikoseksual ................................................... 19
BAB III : PENUTUP
3.1 Kesimpulan ........................................................... 26
3.2 Kritik dan Saran .......................................................... 27
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
I.I
Latar Belakang
Anak yang cerdas, sehat, berpenampilan
menarik, dan beraklak mulia merupakan dambaan setiap orang tua. Agar dapat
tercapai hal tersebut terdapat kriteria yang harus terpenuhi dalam pertumbuhan
dan perkembangan anak, salah satunya adalah faktor genetik. Namun selain faktor
keturunan masih terdapat faktor lain yang mempengaruhi kualitas seorang anak.
Kualitas seorang anak dapat dinilai dari proses tumbuhkembang yang merupakan
hasil interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik/
lingkungan adalah faktor yang berhubungan
dengan gen yang berasal dari ayah maupun ibu, sedangkan faktor lingkungan
meliputi lingkungan biologis, fisik, psikologis dan sosial.
Pertumbuhan dan perkembangan anak
mengalami peningkatan yang pesat pada usia dini. Masa ini sering juga di sebut
masa “Golden Age”. Golden agae merupakan masa yang sangat penting untuk
memeperhatikan tumbuh kembang anak secara cermat agar sedini mungkin dapat
terdeteksi apabila ada kelainan. Selain itu dengan memperhatikan pertumbuhan
dan perkebangan dapat juga meminimalisir kelainan yang bersifat permanen.
1.2 Rumusan Masalah
1)
Apa yang dimaksud dengan pertumbuhan dan
perkembangan ?
2)
Aspek–aspek apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ?
3)
Fase – fase apa saja yang ada di dalam pertumbuhan
dan perkembangan ?
4)
Apa saja fase – fase yang ada didalam psikoseksual
pada anak ?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui pertumbuhan dan
perkembangan pada anak, mengetahui aspek-aspek yang mempengarui pertumbuhan dan
perkembangan pada anak, fase-fase pertumbuhan dan perkembangan, serta fase-fase
psikoseksualnya.
1.4 Batasan masalah
Makala
ini hanya membahas tentang definisi pertumbuhan dan perkembangan, aspek-aspek
yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan, serta fase-fase pertumbuhan,
perkembangan dan psikoseksual.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Istilah tumbuh kembang terdiri atas dua peristiwa yang sifatnya berbeda
tetapi saling berkaitan dan sulit untuk dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan
perkembangan. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah
sel serta jaringan interselular, yang berarti bertambahnya ukuran fisik dan
struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan
panjang dan berat.
Pertumbuhan jasmaniah
berakar pada: oragnisme yang selalu berproses untuk menjadi (the process of
coming into being). Jelasnya, organisme merupakan sistem yang mekar secara
kontinu, yang selalu “beroprasi”atau
berfungsi; juga sifat dinamis yang tidak pernah statis secara komplit
(kecuali kalau sudah mati). Pertumbuhan jasmaniah ini dapat diteliti dengan
mengukur
(1) berat,(2) panjang dan
(3) ukuran lingkaran ; umpama lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul,
lingkar lengan, dan lain-lain.
Pertumbuhan
dapat dicontohkan sebagai berikut :
v Pertumbuhan Seorang
bayi yang lahir dengan ukuran fisik yang masih pendek dan kecil. Semakin lama
akan mengalami perubahan sesuai dengan umurnya, tubuh bertambah tinggi atau
panjang yang dapat diketahui dengan pengukur tinggi badan atau berat badan
semakin banyak yang dapat diketahui dengan menimbangnya juga, dan lainnya yang
berkaitan dengan fisik. Dalam pertumbuhan itu tidak mengalami penurunan selalu
menjadi lebih sempurna.
Perkembangan adalah
bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan
gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.
Dalam perkembangan tidaklah terbatas pada semakin sempurna tetapi juga
terkandung serangkaian perubahan secara terus menerus secara pasti, melalui
suatu tahap yang sederhana ke tahap berikutnya yang semakin tinggi dan maju
walaupun sulit diukur dengan alat ukur.
Seifert
dan Hoffnung (1994) mendefinisikan sebagai “long-term
changes in a person’s growth, feelings, patterns of thinking, social
relationships, and motor skills.” Sementara itu , Chaplin (2002)
mengartikan perkembangan sebagai: (1) perubahan yang berkesinambungan dan
progresif dalam organisme, dari lahir sampai mati, (2) pertumbuhan, (3)
perubahan dalam bentuk dan dalam intregrasi dari bagian-bagian jasmaniah ke
dalam bagian-bagian fungsional, (4) kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi
dari tingkah laku yang tidak di pelajari.
Menurut Reni Akbar Hawadi (2001),
“perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari
potensi yang di miliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan
ciri-ciri yang baru. Di dalam istilah perkembangan juga tercakup konsep usia,
yang diawali dari saat pembuahan dan berakhir dengan kematian.”
Perkembangan dapat dicontohkan sebagai berikut :
v Perkembangan
Seorang bayi awalnya lahir dengan struktur jaringan dan fungsi organ yang masih sederhana. Mereka hanya bisa berguling-guling belum bisa seutuhnya bergerak dan semakin lama ada perubahan sedikit-demi sedikit. Bisa merangkak, tahu orang-orang disekitar, belajar berjalan dan belajar berbicara sehingga otot dan kekuatan jaringan syarafnya semakin sempurna. Setelah itu mereka dapat mengembangkan suatu perubahan dari proses belajar. Anak yang dari kecil di ajari main sepak bola sehingga anak tesebut sudah mendapatkan suatu pengalaman sehingga sampai dewasa mereka pintar bermain sepak bola. Atau anak yang dari kecil sudah diajari computer saat tumbuh dewasa, anak tersebut akan mengembangkan pengalamannya belajar computer. Karena tidak dipungkiri bahwa pengalaman akan berpengaruh dalam proses perkembangan individu. Tetapi perkembangan juga akan mengalami proses penurunan setelah perubahan yang dialami sudah pada puncaknya. Dan setelah itu akan mengalami penurunan dan kerusakan sedikit demi sedikit dari setiap jaringan, seperti seseorang yang mengalami penurunan dalam daya ingatan dan fisiknya hingga individu itu meninggal dunia.
Seorang bayi awalnya lahir dengan struktur jaringan dan fungsi organ yang masih sederhana. Mereka hanya bisa berguling-guling belum bisa seutuhnya bergerak dan semakin lama ada perubahan sedikit-demi sedikit. Bisa merangkak, tahu orang-orang disekitar, belajar berjalan dan belajar berbicara sehingga otot dan kekuatan jaringan syarafnya semakin sempurna. Setelah itu mereka dapat mengembangkan suatu perubahan dari proses belajar. Anak yang dari kecil di ajari main sepak bola sehingga anak tesebut sudah mendapatkan suatu pengalaman sehingga sampai dewasa mereka pintar bermain sepak bola. Atau anak yang dari kecil sudah diajari computer saat tumbuh dewasa, anak tersebut akan mengembangkan pengalamannya belajar computer. Karena tidak dipungkiri bahwa pengalaman akan berpengaruh dalam proses perkembangan individu. Tetapi perkembangan juga akan mengalami proses penurunan setelah perubahan yang dialami sudah pada puncaknya. Dan setelah itu akan mengalami penurunan dan kerusakan sedikit demi sedikit dari setiap jaringan, seperti seseorang yang mengalami penurunan dalam daya ingatan dan fisiknya hingga individu itu meninggal dunia.
Pertumbuhan
dan perkembangan membawa manusia kepada kedewasaan. Setelah dewasa, manusia
dapat menghasilkan keturunan sehingga populasi manusia akan terjaga
kelestariannya. Sekarang, coba kamu bayangkan jika tidak terjadi pertumbuhan
dan perkembangan pada manusia? Mungkin populasi manusia akan punah. Begitu juga
dengan hewan dan tumbuhan. Jika hewan dan tumbuhan tidak mengalami pertumbuhan
dan perkembangan, maka akan mengalami kepunahan.
2.2 Aspek-aspek yang Mempengaruhi
Pertumbuhan
-
Faktor-faktor
sebelum lahir
Misalnya: peristiwa kekurangan nutrisi pada ibu dan
janin; janin terkena virus, keracunan sewaktu bayi ada di dalam kandungan;
terkena infeksi oleh bakteri syphilis, terkena penyakit gabag, TBC, kholera, typhus, gondok, sakit gula (diabetes
melitus), dan lain-lain.
-
Faktor
ketika lahir, antara lain ialah: intracranial
haemorahage atau pendarahan pada bagian kepala bayi, disebabkan oleh tekanan
dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan. Dan oleh defek pada susunan
syaraf pusat, karena kelahiran bayi dengan bantuan tang (tangverlossing).
-
Faktor
sesudah lahir, antara lain: oleh pengalaman traumatik
(luka-luka) pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena bayi terjatuh;
kepala terpukul atau mengalami erangan sinar matahari (zonnesteek) . infeksi pada otak atau selaput otak, misalnya oleh
penyakit cerebral meningitis, gabag, malaria tropika, dyptheria, radang kuning
bernanah, dan lain-lain. Kekurangan nutrisi atau zat makanan dan gizi. Semua
penyebabtersebut di atas menyebabkan pertumbuhan bayi dan anak sangat
terganggu.
Bayi-bayi yang di lahirkan oleh ibu-ibu dari
golongan sosial ekonomis yang rendah pada umumnya tubuhnya lebih kecil dari
pada bayi-bayi yang dilahirkan dari klas menengah dan tinggi. Hal ini
disebabkan antara lain oleh kekrangan gizi dan kurang sempurnanya .perawatan
kesehatan.
-
Faktor
psikologis: antara lain bayi di tinggalkan oleh ibu, ayah atau
kedua orang tuanya. Sebab lain ialah anak-anak di titipkan dalam suatu
institusionalia (Rumah sakit, rumah yatim piatu, yayasan perawatan bayi, dan
lain-lain). Sehingga mereka kurang sekali mendapatkan perawatan jasmaniah dan
cinta kasih. Anak-anak tersebut mengalami innanitie psikis (kehampaan psikis,
kering dari perasaan), sehingga mengakibatkan retardasi/kelambatan pertumbuhan
pada semua fungsi jasmaniah. Juga ada hambatan fungsi rokhaniah ; terutama
sekali pada perkembangan intelegensi dan emosi.
2.3 Aspek-aspek yang mempengaruhi
perkembangan
Perkembangan anak tidak berlangsung
secara mekanis-otomatis. Sebab perkembangan tersebut sangat bergantung pada
beberapa faktor/aspek; secara garis besar, faktor-faktor dibedakan atas 3
faktor yaitu 1) Faktor yang berasal dari
dalam individu, 2) Faktor yang berasal dari luar individu, dan 3) faktor-faktor
umum.
2.3.1
Faktor-faktor yang Berasal Dari Dalam Individu
Semenjak
dari dalam kandungan, janin tumbuh menjadi besar dengan sendirinya, dengan
kodrat-kodrat yang dikandungnya sendiri. Di antara faktor-faktor di dalam diri
yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan individu adalah:
Bakat
atau pembawaan
Anak
di lahirkan dengan membawa bakat-bakat tertentu. Bakat ini dapat di umpamakan
sebagai bibit kesanggupan atau bibit kemungkinan yang terkandung dalam diri
anak. Setiap individu memiliki bermacam-macam bakat sebagai pembawaannya,
seperti bakat musik, seni, agama, akal yang tajam dan sebangainya. Anak yang
menpunyai bakat musik misalnya, niscaya minat dan perhatiannya akan sangat
besar terhadap musik. Ia akan mudah mempelajarinya, mudah mencapai
kecakapan-kecakapan yang berhubungan dengan musik. Ia dapat mencapai kemajuan
dalam bidang musik, bahkan mungkin mencapai prestasi luar biasa, seperti ahli
musik, pencipta lagu, apabila didukung oleh pendidikan dan lingkungan yang
memadai, sebab bakat hanya berarti kemungkinan,bukan
berarti keharusan. Dengan demikian jelaslah bahkan bakat atau pembawaan
mempunyai pengaruh terhadap perkembangan individu
Sifat-sifat
keturunan
Sifat-sifat
keturunan yang individu dipusakai dari orangtua atau nenek moyang dapat berupa
fisik dan mental. Mengenai fisik misalnya bentuk muka (hidung), bentuk badan,
suatu penyakit. Sedangkan mengenai mental misalnya sifat pemalas, sifat
pemarah, pendiam, dan sebagainya. Dengan demikian jelaslah bahwa sifat-sifat
keturunan ikut menentukan perkembangan seseorang. Mesipun demikian, karna
sifat-sifat keturunan seumpama bibit, yang tumbuhnya dapat dipengaruhi dan
dipupuk kearah yang baik atau yang buruk, maka ini berarti bahwa pendidikan dan
lingkungan dapat menghambat tumbuhnya sifat-sifat yang buruk dan mengembangkan
sifat-sifat yang baik.
Dorongan
dan instink
Dorongan
adalah kodrat hidup yang mendorong manusia melaksanakan sesuatu atau bertindak
pada saatnya. Sedangkan instink atau naluri adalah kesangupan atau ilmu
tersembunyi yang menyuruh atau membisikan kepada manusia bagaimana cara
melaksanakan dorongan batin. Dengan perkataan lain, instink adalah suatu
sifat yang dapat menimbulkan perbuatan
yang menyampaikan pada tujuan tanpa didahului dengan latihan. Kemampuan instink
ini pun merupakan pembawan sejak lahir, yang dalam psikologi kemampuan instink
ini termasuk kapabilitas yaiu kemampuan berbuat sesuatu dengan tanpa melalui
belajar.
Jenis-jenis tingkah laku manusia yang
digolongkan instink ini ialah:
a
) Melarikan diri (flight ) karena perasaan takut (
fear )
b
) Menolak ( repulsion ), karena jijik ( disgis
)
c
) Ingin tahu ( curiosity ) karena menakjubkan sesuatu ( wonder )
d
) Melawan ( pugnacity
) karena kemarahan ( anger )
e
) Merendahkan diri ( self abasemant ) karena perasaan mengabdi ( subjection )
f)
Menonjolkan diri ( self assertion ) karena adanya harga diri atau manja (elation)
g)
orang tua (parental) karena perasaan halus budi ( tender )
h)
Berkelamin (seksual) karena keinginan
mengadakan reproduksi
i) Berkumpul (acquisition)
karena keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang baru.
j)
Mencapai sesuatu (quistion) karena ingin bergaul/ bermasyarakat.
k)
Membangun sesuatu (contruction) kerena mendapatkan kemajuan.
l)
Menarik perhatian orang lain (appeal) karena ingin diperhatikan orang
lain.
Tiap anak dilahirkann dengan
dorongan-instink yang dikandung di dalam jiwanya. Ada dorongan yang selama
perkembangan berlangsung atau selama hidup manusia aktif terus mempengaruhi
hidup kejiwaan, seperti dorongan mempertahankan diri, dorongan seksual, dan
dorongan sosial. Dorongan mempertahankan diri misalnya tampak pada bayi ketika
mencari makanan. Dengan instink yang dimilikinya ia berusaha mencari susu
ibunya, sehingga memperoleh makanan untuk mempertahankan hidupnya. Dorongan dan
instink ini juga sangat besar dalam perkembangan individu.
2.3.2 Faktor-faktor yang Berasal
Dari Luar Diri Individu
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa
perkembangan itu didorong dari dalam, dan dorongan itu dapat melaju atau
terhambat oleh faktor-faktor yang berada di luar dirinya. Di antara
faktor-faktor luar yang mempengaruhi perkembangan individu adalah:
Makanan
Makanan
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan individu. Hal ini
terutama pada tahun-tahun pertama dari kehidupan anak, makanan merupakan faktor
yannng sangat penting bagi pertumbuhan yang normal dari setiap individu. Oleh
sebab itu dalam rangka perkembangan dan pertumbuhan anak menjadi sehat dan
kuat, perlu memperhatikan makanan ,tidak saja dari segi kualitas ( jumlah )
makanan yang dimakan, melankan juga dari segi kualitas ( mutu )makanan itu
sendiri. Makanan yang banyak hanya akn mengenyangkan perut, tetapi gizi yang
cukup akan menjamin pertumbuhan yang sempurna.
Akan tetapi, apabila ditinjau dari
perspektif agama ( islam ), makanan yang mengandung gizi saja belum cukup bagi
pertumbuhan dan perkembangan anak, melainkan harus disempurnakan dengan tingkat
kehalalan dan kebersihan dari makanan itu sendiri, sebagaimana firman Allah: “ dan makanlah makanan yang halal lage baik
dari apa yang telah direzekikan kepadamu ... ( QS. AL-Maidah: 88).”
Pentingnya menperhatikan kualitas makanan
dari segi kehalalannya ini adalah karena menurut islam makanan mempunyai
pengaruh yang besar, tidak saja terhadap pertumbuhan dan kesehatan jasmani manusia,
melainkan juga terhadap perkembangan jiwa, pikiran dan tingkah laku seseorang.
Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh seorang ulama kontemporer, Syaikh Taqi
Falsafi, dalam bukunya Child between
Heredity and Education, yaitu:
Pengaruh
dari campuran (senyawa) kimiawi yang di kandung oleh makanan terhadap aktivitas
jiwa dam pikiran manusia belum di ketahui secara sempurna, karena belum
diadakan eksperimen secara memadai. Namun, tidak dapat di ragukan bahwa
perasaan manusia dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas makanan
Dengan demikian jelas betapa
makanan mempunya pengaruh besar bukan saja terhadap pertumbuhan jasmani
manusia, tetapi juga terhadap perkembangan jiwa. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa minuman keras merupakan langkah awal yang mengakibatkan langkah berikut dari pada penahat. Masyarakat juga cenderung meyakini bahwa
anak yang diberi makn oleh orangtuanya
dengan makanan-makanan yang haram, seperti dari hasil penncurian, penipuan,
hasil korupsi, dan sebagainya, akan memiliki tingkah laku yang buruk.
Iklim
Iklim
atau keadaan cuaca juga perpengaruh terhadap perkembangan kehidupan anak.
Sifat-sifat indifidu dan jiwa bangsa yang berada dalam iklim yang bersangkunan.
Seseorang yang hidup dalam iklim tropis
yang kaya rasa misalnya, akn melihat jiwanya lebih tenang, lebih”nrimo”,
dibandingkan dengan seseorang yang hidup dalam iklim dingin, karena iklim
tropis keadaan alamnya tidak “sekeras “di iklim dingin, sehingga perjuangan
hidupnya pun cenderung lebih santai.
Hal ini juga terlihat besar pada tubuh
seorang anak, kesehatan dan kematangan usianya banyak dipengaruhi oelh
banyaknya udara yang segar dan bersih
seta sinar matahari yang diperolehnya, khususnya pada tahun-tahun pertama dari
kehidupanya. Kenyataan itu akan lebih nyata jika kita membandingkan antara
anak-anak yang hidup dilingkungan yang baik dan sehat dengan anak-anak yang
hidup dilingkungan yang buruk (kumuh) dan tidak sehat.
Keadaan iklim dan lingkungan tersebut
cukup berpengaruh terhadap pertumbuahan fisk dan perkembangan mental anak,
meskipun para ahli masih terus berdebat tentang sejauh mana pengaruh-pengaruh
itu terjadi pada perkembangan seorang anak.
Kebudayaan
Latar
belakang budaya suatu bangsa sedikit banyak juga mempengaruhi perkembangan
seseorang. Misalnya latar belakang budaya desa, kedaan jiwanya masih murni,
masih yakin akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan, akan tebih tenang, karena
jiwanya masih berda dalam linkungan kultur, kebudayaan bangsa sendiri yang
mengandung petunjuk-petunjuk dan falsafah yang diramu dari pandangan hidup
keagamaan. Lain halnya dengan seseorang yang hidup dalam kebudayaan kots yang
sudah dipengarhi oleh kebudayaan asing.
Ekonomi
Latar
belakang ekonomi juga berpengaruh terhadap perkembangan anak. Orang tua yang
ekonominya lemah, yang tidak sanggup memenuhi kebutuhan pokok anak-anaknya
dengan baik, sering kurang memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan
anak-anaknya. Mereka menderita kekurangan-kekurangan secara ekonomis, sehingga
menghambat pertumbuhan jasmani dan perkembangan jiwa anak-anaknya. Bahkan tidak
jarang tekanan ekonomi mengakibatkan pada tekanan jiwa, yang pada gilirannya
menimbulkan konflik antara ibu dan bapak, antara anak dan orang tua, sehangga
melahirkan rasa rendah diri pada anak.
Kedudukan
anak dalam lingkungan keluarga
Kedudukan
anak dalam lingkungan keluarga juga mempengaruhi perkembangannya. Bila anak itu
merupakan anak tunggal, biasanya perhatian orang tua tercurah kepadanya,
sehingga ia cenderung memiliki sifat-sifat seperti: manja kurang bisa bergaul
dengan teman-teman sebayanya,menarik perhatian dengan cara yang kekanak-kanakan
dan sebagainya. Sebaliknya, seorang anak yang mempunyai banyak saudara, jelas
orangtua akan sibuk membagi perhayian terhadap saudara-saudaranya itu. Oleh
sebab itu anak kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya dalam suatu keluarga
menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibandingkan dengan anak yang
pertama. Hal ini dimungkinkan karena anak-anak yang lebih muda akan banyak
meniru dan belajar dari kakak-kakaknya.
Meskipun demikian, anak bungsu akan terlihat lebih lamban
perkembangannya, karena dalambeberapa hal sangat bergantung pada
kakak-kakaknya, sehingga kurang mendapat dorongan untuk berkembang sendiri, dan
sifatnya yang manja itu ikut pula menghambat perkembangan.
2.3.3 Faktor-faktor Umum
Faktor-faktor
umum maksudnya unsur-unsur yang dapat di golongkan ke dalam kedua penggolongan
tersebut di atas, yaitu faktor dari dalam dan dari luar diri individu. Dengan
kata lain, jika faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan itu merupakan
campuran dari kedua unsur tersebut, maka dikatakan sebagai faktor umum. Di
antara faktor-faktor umum yang memepengaruhi perkembangan individu adalah:
Itelegensi
Itelegensi
merupakan salah satu faktor umum yang memepengaruhi perkembangan anak. Tingkat
itelegensi yang tinggi erat kaitannya dengan kelambanan perkembangan. Dalam hal
berbicara misalnya, anak yang cerdas sudah dapat berbicara dalam usia 11
bulan,anak yang rata-rata kecerdasannya pada usia 16bulan, bagi kecerdasannya
yang sangat rendah pada usia 34 bulan, sedangkan bagi anak-anak idiot baru bisa
berbicara pada usia 52 bulan.
Jenis kelamin
Jenis
kelamin juga memegang peranan yang penting dalam perkembangan fisik dan mental
seseorang anak. Dalan hal anak yang baru lahir misalnya, anak laki-laki sedikit
lebih besar dari pada anak perempuan, tetapi anak perempuan kematangannya, anak
perempuan lebih dahulu dari anak laki-laki.
Kelenjar
gondok
Penelitian
dalam bidang endocrinologi menunjukan betapa pentingnya peranan yang di mainkan
oleh kelenjar gondok terhadap perkembangan fisik dan mental anak-anak. Kelenjar
gondok ini mempengaryhi perkembangan baik pada waktu sebelum lahir, maupun pada
pertumbuhan dan perkembangan sesudahnya.
Kesehatan
Kesehatan
juga merupakan salah satu faktor umum yang mempengaruhi sempurna akan mengalami perkembangan dan
pertumbuhan yang memadai. Sebaliknya mereka yang mengalami gangguan kesehatan,
baik secara mental maupun fisik, perkembangan dan pertumbuhannya juga akan
mengalami hambatan.
Ras
Ras
juga turut mempengaruhi perkembangan seseorang. Misalnya, anak-anak dari ras
mediterranean (sekitar laut tengah) mengalami perkembangan fisik lebih cepat di
bandingkan dengan anak-anak dari bangsa Eropa Utara. Demikian pula anak-anak
negro dan ras indian, ternyata perkembangannya lebih cepat di bandingkan
dengan
anak-anak dari ras bangsa-bangsa yang berkulit putih dan kuning.
2.4
Fase-Fase Pertumbuhan dan Perkembangan
2.4.1
Fase – fase pertumbuhan
Fase
embrionik
Yaitu fase pertumbuhan
selama masa embrio yang diawali dengan peristiwa fertilasi yaitu peristiwa pertemuan antara sel sperma
dengan sel ovum dan akan menghasilkan zygot.
Fase
pasca embrionik
Yaitu fase pertumbuhan
makluk hidup setelah fase embrio,
terutama penyempurnaan alat-alat
reproduksi setelah dilahirkan.
Pada fase ini pertumbuhan yang terjadi
ialah peningkatan ukuran bagian-bagian tubuh.
2.4.2 Fase-fase Perkembangan anak
Fase perkembangan maksudnya adalah penahapan
atau periodesasi rentang kehidupan manusia yang di tandai oleh ciri-ciri atau
pola-pola tingkah laku tertentu. Meskipun masing-masing anak mempunyai masa
perkembangan yang berlainan satu sama lain, apabila di pandang secara umum,
ternyata terdapat tanda-tanda atau ciri-ciri perkembangan yang hampir sama
antara anak satu dengan lainnya.Untuk mendapatkan wawasan yang jelas mengenai
perkembangan anak, orang membagi masa perkembangan dalam beberapa periode. Adapun
sebabnya adalah sebagai berikut: “Pada saat-saat perkembangan tertentu,
anak-anak secara umum memperlihatkan
ciri-ciri dan tingkah laku karakteristik yang hampir sama”.
Atas dasar inilah para sarjana-sarjana ilmu
jiwa anak mengemukakan pembagian peride tadi menurut pertimbangan sendiri. Hal
ini terutama disebabkan oleh karena batas-batas yang jelas dari masa-masa
perkembangan itu memang tidak bisa dipastikan dengan seksama. Di samping
pembagian fase-fase perkembangan tersebut dilandasi dengan macam-macam
pertimbangan pribadi pengarangnya. Setiap pencetus teori ingin menonjolkan
beberapa aspek yang khas dalam setiap fase. Misalnya menampilkan secara khusus
perkembangan Ego, perkembanngan itelegensi, bimbingan sekolah, perkembangan
seksualitas, masa-masa kritis, dan sebagainya. Oleh karena itu terbuka banyak
kemungkinan bagi setiap penulis untuk mengemukakan pendapat masing-masing.
Sekalipun begitu, pembagian-pembagian tadi pada intinya mengandung unsur
kesamaan
Dalam ilmu jiwa perkembangan kita kenal beberapa
pembagian masa-hidup anak, yang di sebut sebagai fase atau perkembangan. Fase
perkembangan ini mempunyai ciri-ciri yang relatif sama, berupa
kesatuan-kesatuan peristiwa yang bulat. Secara garis besarnya terdapat empat
dasar pembagian fase-fase perkembangan ini, yaitu: (1) Fase perkembangan
bedasarkan ciri-ciri biologis, (2) Konsep didaktis, (2) Ciri-ciri psikologis,
dan (4) konsep tugas perkembangan.
Fase
perkembangan berdasarkan ciri – ciri biologis
Titik berat fase – fase
perkembangan ini berdasarkan pada gejala – gejala perubahan fisik anak, atau
didasarkan atas proses biologis tertentu. Periodesasi perkembangan seperti ini
diantaranya dikemukakan oleh :
Aristoteles
Perkembangan menurut pendapat Aristoteles (
Agus Sujanto, 1982:59) membagi masa
perkembangan/fase perkembangan selama 21
tahun dalam 3 septenia ( 3 periode kali 7 tahun) yang di batasi oleh gejala
alamiah yang penting; yaitu (1) gigi (2) munculnya gejala-gejala pubertas. Hal
ini di dasarkan pada paralelitas perkembangan jasmaniah dengan perkembangan
jiwani anak. Pembagian tersebut adalah sebagai berikut:
(1) 0,0-7,0 ̶ masa anak kecil ̶ masa
bermain, yang diakhiri dengan tanggal
(pergantian) gigi.
(2) 7,0-14,0 ̶ masa anak, masa belajar yang di mulai
dari tumbuhnya gigi baru sampai timbulnya gejala berfungsinya kelenjar-kelenjar
kelamin
(3)14,0-21,0 ̶ masa pubertas ̶
menuju dewasa, masa ini dimulai dari mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar
kelamin sampai akan memasuki masa dewasa
Fase
Perkembangan Berdasarkan Konsep Didaktif (Pendidikan)
Dasar
yang digunakan untuk menentukan pembagian fase-fase perkembangan adalah materi
dan cara bagaimana mendidik anak pada masa-masa tertentu. Menurut Johann Amos
Comenius penbagian fase-fase perkembangan ini di bagi atas 4 fase yaitu:
1. 0 – 6 `tahun adalah sekolah ibu,
merupakan mengembangkan alat-alat indra dan
memperoleh pengetahuan dasar di bawa asuhan ibunya.
2. 6 – 12 tahun adalah
sekolah bahasa ibu, merupakan masa anak mengembangkan daya ingatnya di bawa
pendidikan sekolah rendah.
3. 12 – 18 tahun adalah
sekolah bahasa latin, merupakan masa mengembang mengenbangkan daya pikirnyadi
bawa pendidikan sekolah menengah.
4. 18 – 24 tahun
adalah sekolah tinggi dan pengembaraan, merupakan masa mengembangkan kemauannya
dan milih suatu lapangan hidup yang berlangsung di bawa perguruan tinggi.
Fase perkembangan berdasarkan
ciri-ciri psikologis
Periodesasi ini
didasarkan atas ciri-ciri yang menonjol, yang menandai masa dalam periode
tersebut. Periode ini di kemukakan oleh
Oswald Kroch
Ciri-ciri
psikologis yang di gunakan Oswald Kroch yang di pandang terdapat pada anak-anak
umumnya adalah pengalaman keguncangan jiwa yang di manesfestasikan dalam sifat
trotz atau sifat keras kepala. Atas dasar ini, ia membagi fase perkembangan
menjadi 3 yaitu :
(1).
Fase anak awal : umur 0 – 3 tahun. Pada akhir fase ini terjadi trotz pertama, yang di tandai denga anak serba
membantah atau menentang orang lain.
(2). Fase keserasian
sekolah : umur 3 – 13 tahun. Pada akhir masa ini timbul trotz yang ke 2, dimana
anak mulai serba membantah lagi. Suka menentang kepada orang lain, terutama
terhadap orang tuanya.
(3).
Fase kematangan : umur 13 – 21 tahun, yaitu setelah berakhirnya gejala-gejala
trotz kedua, anak mulai menyadari kekurangan dan kelebihan yang dihadapi dengan
sikap yang sewajarnya.
Fase Perkembangan Berdasarkan
Konsep Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan adalah berbagai ciri
perkembangan yang diharapkan timbul dan dimiliki setiap anak pada setiap masa
dalam periode perkembangannya. Periodesasi ini dikemukakan oleh Robert
J.Havighurst yaitu:
(1) Masa bayi
dan kanak-kanak ( infancy and early childhood): umur 0-6 tahun.
(2) Masa sekolah atau
pertengahan kanak-kanak (middle childhood) umur 6-12 tahun .
(3) Masa remaja
(adolescence): umur 12-18 tahun.
(4) Masa awal
dewasa (early adulthood): umur 18-30 tahun.
(5) Masa dewasa
pertengahan (middle age): umur 30-50 tahun
(6)
Masa tua (latter maturity): 50 tahun ke atas
2.5
Fase-fase Psikoseksual Anak
Ada fase-fase psikologis yang harus di lalui tiap individu. Antara lain
fase psikoseksual yaitu tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan fungsi seksual
yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis individu tersebut. Tiap
individu akan mengalami fase/tahap psikoseksual dalam tiap tahap perkembangan
umurnya (0-18 tahun). Bila individu tersebut gagal melewati suatu masa yang
harus di laluinya sesuai dengan tahap perkembangannya maka akan terjadi
gangguan pada diri orang tersebut. Pada kesempatan ini kita akan melihat
fase-fase psikoseksual yang pasti dilalui setiap individu sesuai dengan tahap
perkembangannya. Fase-fase tersebut adalah
1.
Fase oral/mulut (0-18 bulan)
Yaitu fase pertama yang harus dilalui
oleh seorang anak seak dilahirkan. Pada bulan-bulan pertama kehidupan, bayi
manusia lebih tidak berdaya dibandingkan bayi binatang menyusui lainnya. Pada
mulanya bayi tidak dapat membedakan antara bibirnya dengan puting susu ibunya,
yaitu asosiasi antara rasa kenyang dengan pemberian asi. Bayi hanya sadar akan
kebutuhannya sendiri dan pada waktu menunggu terpenuhi kebutuhannya, bayi
menjadi frustasi dan baru sadar akan adanya obyek pemuas pada
waktuvkebutuhannya terpenuhi. Inilah pengalaman pertama kesadaran akan obyek di
luar dirinya. Jadi kelaparan menuntutnya untuk mengenal dunia luar. Reaksi
primitif pertama terhadap obyek yaitu bayi berusaha memasukan semua benda yang
di pegangnya ke mulut. Bayi merasa bahwa mulut adalah tempat pemuasan (oral
gratification). Rasa lapar dan haus terpenuhi dengan menghisap puting susu
ibunya.
Kebutuhan-kebutuhan,
prepepsi-prepepsi dan caramekspresi bayi secara primer di pusatkan di mulut,
bibir, lidah dan organ lain yang berhubungan dengan daerah mulut. Dorongan oral
terdiri dari 2 komponen yaitu dorongan libido dan dorongan agresif.
Dorongan
libido yaitu dorongan seksual pada anak, yang berbeda
dengan libido orang dewasa. Dorongan libido merupakan dorongan primer dalam
kehidupan yang merupakan sumber energi dari ego dalam mengadakan hubungan
dengan lingkungan, sehingga memungkinkan pertumbuhan ego. Ketegangan oral akan
menbawa pada pencarian kepuasan oral yang di tandai dengan diamnya bayi pada
akhir menyusui. Sedangkan
dorongan
agresif dapat terlihat dalam perilaku menggigit, menguyah, meludah, dan menangis. Pada fase
oral ini, peran ibu penting untuk memberikan kasih sayang dengan memenuhi
kebutuhan bayi secepatnya. Jika semuanya kebutuhan bayi terpenuhi, bayi akan
merasa aman, percaya pada dunia luar. Hal ini merupakan dasar perkembangan
selanjutnya dalam berhubungan dengan dunia luar. Jika pada fase oral ini bayi
merasakan kekecewaan yang mendalam, hal ini akan mempengaruhi perkembangan
selanjutnya. Pada waktu dewasa akan mengalami gangguan tingkah laku seksual
misalnya kepribadian oral sadistik yang dimanifestasikan dalam penyimpangan
seksual
Sadisme, yaitu kepuasan seks yang
dicapai bila di dahului atau disertai tindakan yang menyakitkan. Sebaliknya,
bila bayi mendapat kepuasan yang berlebihan maka dalam perkembangan selanjutnya
dapat menjadi sangat optimis, narcistik (cinta diri sendiri), dan selalu
menuntut.
2.
Fase anal (1 ½-3 tahun)
fase ini ditandai
dengan matangnya syaraf-syaraf otot sfinger anus sehangga anak mulai bisa mengendalikan
beraknya. Pada fase ini kepuasan dan kenikmatan anak terletak pada anus.
Kenikmatan didapatkan pada waktu menahan berak. Kenikmatan lenyap setelah berak
selesai. Jika kenikmatan yang sebenarnya di peroleh anak dalam fase ini
ternyata diganggu orang tuanya dengan mengatakan bahwa hasil produksinya kotor,
jijik dan sebagainya, bahkan jika disertai dengan kemarahan atau bahkan ancaman
yang dapat menimbulkan kecemasan, maka hal ini dapat mengganggu perkembangan
kepribadian anak. Dimana pada perkembangan seksualitas dewasa anak merasa jijik
(kotor) terhadap alat kelaminya sendiri dan tidak dapat menikmati hubungan
seksual denganpartnernya.
Oleh karena itu sikab orangtua yang benar
yaitu mengusahakan agar anak merasa bahwa alat kelamin dan anus serta kotoran
yang dikeluarkannya adalah sesuatu yang biasa (wajar) dan bukan sesuatu yang
menjijikan. Hal ini penting karena akan mempengaruhi pandangannya terhadap seks
nantinya. Jika terjadi hambatan pada mengembangkan sifat-sifat tidak konsisten,
kerapian, keras kepala, kesengajaan, kekikiran yang merupakan karakter anal
yang berasal dari sisa-sisa fungsi anal. Jika pertahanan terhadap sifat-sifat
anal kurang efektif, karakter anal menjadi ambilavensi (ragu-ragu) berlebihan,
kurang rapi, suka menentang, kasar sasomsokistik (dorongan untuk menyakiti dan
disakiti). Karakter anal yang khas terlihat pada penderitaan obsesif kompulsif.
Penyelesaian fase anal yang berhasil, menyiapkan dasar untuk perkembangan
kemandirian, kebebasan, kemampuan untuk menentukan perilaku sendiri tanpa rasa
malu dan ragu-ragu, kemampuan untuk menginginkan kerjasama yang baik tanpa
perasaan rendah diri
3.
fase uretral
Pada fase ini merupakan
perpindahan dari fase anal ke fase phallus. Erotik uretral mengacu pada
kenikmatan dalam pengeluaran dan penahanan air seni seperti pada fase anal.
Jika fase uretral tidak dapat diselesaikan dengan baik, anak akan mengembangkan
sifat uretral yang menonjol yaitu persaingan dan ambisi sebagai akibat
timbulnya rasa malu karena kehilangan kontrol terhadap uretra. Jika fase ini
dapat di selesikan dengan baik, maka anak akan mengembangkan persaingan sehat,
yang menimbulkan rasa bangga akan kemampuan diri. Anak laki-laki meniru dan
membandingkan dengan ayahnya. Penyelesaian konflik uretra merupakan awal dari identitas
gender dan identifikas selanjutnya.
4.
Fase phallus (3-5 tahun)
Pada fase ini anak
mulai mengerti bahwa kelaminnya berbeda dengan kakak, adik atau temannya. Anak
mulai merasakan bahwa kelaminnya merupakan tempat yang memberikan kenikmatan
ketika ia mempermainkan bagian tersebut. Tetapi orangtua sering marah bahkan
mengeluarkan ancaman bila melihat anaknya memegang atau mempermainkan
kelaminnya. Pada fase ini, anak laki-laki dapat timbul rasa takut bahwa
penisnya akan dipotong (dikebiri). Ketakutan yang berlebihan tersebut dapat
menjadi dasar penyebab gangguan seksual seperti impotensi primer dan
homoseksual.
Pada fase ini muncul rasa erotik anak terhadap
orangtua dari jenis kelamin yang berbeda. Rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang
berhubungan dengan seks tampak dalam tingkah laku anak, misalnya membuka rok
ibunya, meraba buah dada atau kelamin orang tuanya. Daya erotik anak laki-laki
terhadap ibunya, disertai rasa cemburu terhadap ayahnya, dan keinginan untuk
mengganti posisi ayah di samping ibu, di
sebut kompleks Oedipus. Untuk anak wanita disebut kompleks elektra. Komplek
elektra biasanya disertai rasa rendah diri karena tidak mempunyai kelamin
seperti anak laki-laki dan merasa takut jika terjadi kerusakan pada alat
kelaminnya. Bila kompleks Oedipus/elektra tidak dapat di selesaikan dengan
baik, dapat menyebabkan gangguan emosi pada kemudian hari.
5.
Fase latensi (5/6-11/13 tahun)
pada fase ini semua
aktifitas seakan-akan tertekan, karena perhatian anak tertuju pada hal-hal di
luar rumah. Tetapi keingin tahuan tentang seksualitas tetap berlanjut. Dari
teman-teman sejenisnya anak-anak juga enerima informasi tentang seksualitas
yang sering menyesatkan. Keterbukaan dengan orangtua dapat meluruskan informasi
yang salah dan menyesatkan itu. Pade fase ini dapat terjadi gangguan hubungan
homoseksual pada laki-laki maupun
perempuan. Kegagalan dalam fase ini mengakibatkan kurang berkembangnya
kontrol diri sehingga anak gagal mengalihkan energinya secara efisien pada
minat belajar dan pengembangan ketrampilan.
6.
Fase genital (11/13-18 tahun)
Pada fase ini, proses
perkembangan psikoseksual mencapai “titik akhir”. Organ-organ seksual mulai
aktif sejalan dengan mulai berfungsinya hormon-hormon seksual sehingga pada
saat ini terjadi perubahan fisik danpsikis. Secara fisik, perubahan yang paling nyata adalah
pertumbuhan tulang dan perkembangan organ seks serta tanda-tanda seks sekunder.
Remaja putri mencapai kecepatan pertumbuhan maksimal pada usia sekitar 12-13
tahun, sedangkan remaja putra sekitar 14-15 tahun. Akibat perbedaan waktu ini,
biasanya para gadis tampak lebih tinggi dari pada anak laki-laki seusia pada
periode umur 11-14 perkembangan tanda seksual sekunder para gadis adalah
pertumbuhan payudara, tumbuh rambut pubes dan terjadinya menstruasi, pantat mulai
membesar, pinggang ramping dan suara feminim. Serangkan pada anak laki-laki
terlihat buah pelir dan penis mulai membesar, tumbuh rambut pubes, rambut
kumis, suara mulai membesar. Terjadi mimpi basah, yaitu keluar air mani saat
tidur (mimpi basah). Bersamaan dengan perkembangan itu muncullah gelombang
nafsu birahi baik pada laki-laki maupun wanita. Secara psikis, remaja mulai
mengalami rasa cinta dan tertarik pada lawan jenisnya. Kegagalan dalam fase ini
mengakibatkan kekacauan identitas.
Fase-fase
Psikoseksual menurut Sigmun Freud
Menurut Sigmun Freud setiap orang akan melampaui lima tahap/fase
perkembangan psikoseksual dan pada setiap tahapan tersebut kita akan memperoleh
kenikmatan pada satu bagian tubuh lebih dari pada bagian tubuh yang lainya. Adapun
fase-fase perkembangan psikoseksual yang dimaksud oleh Freud yaitu
1. Tahap mulut (oral stage) ialah tahap pertama
kepribadian Freud, yang berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan, dalam
mana kehidupan, dalam mana kenikmatan bayi berpusat di sekitar mulut.
Mengunyah, menghisap, dan menggigit adalah sumberutama kenikmatan.
Tindakan-tindakan ini mengurangi tekanan/ tegangan pada bayi.
2. Tahap anal ( anal stage) ialah tahap kedua
kepribadian Freud, yang berlangsung antara usia 1 dan 3 tahun, dalam mana
kenikmatan terbesar anak meliputi lubang anus atau fungsi
pengeluaran/pembersihan yang diasosiasikan denganya. Dalam pandangan Freud,
latihan otot-otot lubang dubur mengurangi tekanan/ketegangan.
3. Tahap phallic ( phallic stage ) ialah tahap
ketiga kepribadian Freud, yang berlangsung antara usia 3 dan 6 tahun; phallic
berasal dari kata latin phallus, yang berarti “ alat kelamin laki-laki ( penis
).” Selama tahap phallic, kenikmatan berokus pada alat kelamin, ketika anak
menemukan manipulasi diri (self-manipulation) dapat memberi kenikmatan.
Dalam pandangan Freud, tahap phallic memiliki kepentingan khusus dalam
perkembangan kepribadian karena selama periode inilah Oedipus complex muncul. Istilah ini berasal dari
mitologi yunani, dimana Oedipus, putra raja Thebes, tanpa sengaja membunuh
ayahnya dan menikahi ibunya. Oedipus complex ialah konsep Freud di mana anak
kecil mengembangkan suatu keinginan yang mendalam untuk menggantikan orang tua
yang sama jenis kelamin dengannya dan menikmati afeksi dari orang tua yang
berbeda jenis kelamin denganya. Konsep Oedipus complec Freud di kecam oleh
beberapa pakar psikoanalisis dan penulis. Untuk mempelajari lebih dalam tentang
kecaman terhadap teori Freud yang berdasarkan kebudayaan dan gender.
Bagaimana Oedipus complex diatasi? Pada usia kira-kira 5-6 tahun,
anak-anak menyadari bahwa orang tua yang sama jenis kelamin denganya dapat
menghukum mereka atau keinginan incest mereka ( incestuous wishes). Untuk
mengurangi konflik ini, anak mengidentifikasikan diri dengan orang tua yang
sama jenis kelamin dengannya, dengan berusaha keras menjadi seperti orang tua
yang sama jenis kelaminnya itu. Namun, bila konflik tidak teratasi, individu
dapat terfiksasi pada tahap phallic.
4. Tahap laten/tersembunyi (latency stage) ialah
tahap ke empat kepribadian Freud, yang berlangsung antara kira-kira usia 6
tahun dan masa puberitas; anak menekan semua minat terhadap seks dan
mengembangkan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energi anak ke dalam
bidang-bidang yang aman secara emosional dan menolong anak melupakan konflik
pada tahap phallic yang sangat menekan.
5. Tahap kemaluan ( genital stage )
ialah tahap klimaksdan terakhir pada kepribadian Freud, yang berawal dari masa
puberitas dan seterusnya tahap kemaluan ialah suatu masa kebangkitan seksual;
sumber kenikmatan seksual sekarang adalah seseorang yang berada di luar
keluarga. Freud yakin bahwa konflik yang tidak teratasi dengan orang tua
terjadi selama masa remaja. Bila teratasi, individu mampu mengembangkan suatu
hubungan cinta yang dewasa yang berfungsi secara mandiri sebagai seorang
dewasa.
BAB III
PENUTUP
1.1
Kesimpulan
Pertumbuhan adalah
bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, yang berarti
bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan,
sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat.Sedangkan, Perkembangan
adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam
kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan
kemandirian.
Aspek-aspek yang Mempengaruhi Pertumbuhan
-
Faktor-faktor
sebelum lahir
-
Faktor ketika
lahir
-
Faktor sesudah
lahir
-
Faktor psikologi
aspek-aspek
perkembangan dibedakan atas 3 faktor
yaitu
1) Faktor yang berasal dari dalam individu,
2)
Faktor yang berasal dari luar individu, dan
3)
faktor-faktor umum.
Fase-fase
pertumbuhan ada 2 yaitu:
-Fase
embrionik
-Fase
pasca embrionik
Terdapat empat dasar pembagian fase-fase
perkembangan antara lain, yaitu:
(1) Fase perkembangan bedasarkan ciri-ciri
biologis,
(2) Fase perkembangan berdasarkan Konsep
didaktis,
(3) Ciri-ciri psikologis, dan
(4) konsep tugas perkembangan.
Fase-fase
Psikoseksual menurut Sigmun Freud ada 5 tahapan yaitu:
1. Tahap
mulut (oral stage)
2. Tahap anal
( anal stage)
3. Tahap
phallic ( phallic stage )
4. Tahap
laten/tersembunyi (latency stage)
5. Tahap kemaluan ( genital stage )
3.2
Saran
Saran kami sebagai pemakala kepada teman – teman, yaitu dengan adanya
makala ini teman-teman dapat memahami dan mengetahui tentang perkembangan dan
pertumbuhan anak, serta dapat menerapkan
dalam kegiatan belajar-mengajar ataupun kehidupan sehari-hari nantinya..
DAFTAR
PUSTAKA
Kartono, Kartini.( 1995). ”Psikologi Anak”. Bandung: Mandar Maju
Sujanto,Agus. (1982). “ Psikologi Perkembangan”. Jakarta: Aksara Baru
Santrock, John.w. “ Life-Span Development”. Jakarta: Erlangga
Desmita.(2010).”Psikologi Perkembangan Peserta Didik”.Bandung:Rosdakarya