Mendidik
anak ibarat membuat ukiran di atas batu yang tidak akan mudah hilang, bahkan
membekas sampai akhir hayat si anak. Karena itu, pola asuh khususnya pola asuh
anak sangat berpengaruh terhadap kecerdasan sosial anak. Gaya asuh orang tua
telah ditemukan dapat memprediksi pencapaian anak dalam ranah kompetesi sosial
maupun dalam berbagai ranah lainya termasuk kinerja akademik, perkembangan
psikososial, dan perilakunya. Penelitian yang pada
wawancara terhadap orang tua, laporan anak, dan observasi terhadap orang tua
secara konsisten menemukan hal-hal berikut:Ø Anak dan remaja yang orang tuanya otoritatif memiliki kompetensi instrumental (kinerja akademik) yang lebih tinggi daripada mereka yang orangtuanya non otoriter
Ø Anak remaja yang orang tuanya tak peduli adalah yang paling buruk
kinerjanya dalam keduaranah kompetensi tersebut
Ø Anak dan remaja dari keluarga otoriter cenderung moderat dalam
kinerja sekolahnya dan tidak terlibat dalam perilaku bermasalah, tetapi mereka
menunjukan ketrampilan sosial yang kurang baik, harga diri yang lebih rendah,
dan tingkat depresi yang tinggi.
Ø Anak dan remaja dari keluarga permisif cenderung terlibat dalam
perilaku bermasalah dan kurang baik dalam kinerja sekolahnya, tetapi mereka
menunjukkan harga diri yang lebih baik, dan tingkat depresi yang lebih rendah.
Dalam mengasuh anak, sebagaimana halnya dalam upayah-upayah lain, tidak ada satu cara yang selalu baik untuk segala hal. Namun demikian, adalah aman untuk mengatakan bahwa gaya asuh otoritatif lebih baik dari pada gaya-gaya asuh lainya di dalam memfasilitasi perkembangan kompetensi sosial pada anak, baik di dalam lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan teman sebayanya
Keuntungan
gaya asuh otoritatif dan efek yang merugikan dari gaya asuh tak peduli itu
sudah dapat terlihat sejak anak berada pada masa pra-sekolah dan terus tampak
selama masa remaja dan awal masa dewasanya (Darling, 1999). Sebagaimana orang
tua yang otoritatif mampu menyeimbangkan tuntutan kepatuhan dengan penghargaan
terhadap individualitas anaknya, demikian pula halnya dengan anak dari keluarga
otoritatif tampaknya mampu menyeimbangkan tuntutan kepatuhan eksternal dan
tuntutan berprestasi dengan kebutuhan otonomi dan individualisasinya.
Dari pemaparan di atas, kida dapat sedikit menyimpulkan bahwa seberapa besar peranan yang dimainkan oleh
orang tua di dalam membantu perkembangan kompetensi sosial anaknya terkait
dengan jenis gaya asuh yang di praktikannya di dalam mengasuh anaknya.
Daftar
Pustaka
Fakhruddin,
Asep Umar. 2011.Terapan Quantum Learning untuk Keluarga.Jogjakarta:Laksana
tolong di koreksi ya kalau ada kesalahan.. :)
BalasHapus